Tela-Tela - Singkong Gaul Menembus Batas

Monday, May 11, 2009


FRIED CASSAVA
Snack LOKAL
Pasar GLOBAL


Bekasi, dobeldobel.com - kelanakuliner.com
Perahkah anda sadar bahwa ternyata ada cikal makanan ringan bangsa kita yang bisa dipastikan nantinya menjadi makanan global. Kalau rendang padang saja oleh pemprov Sumatera Barat mau didaftarkan hak ciptanya sebagai makanan khas Indonesia, karena kuatir nanti akan diklaim sebagai makanan khas orang Melayu oleh negara Malaysia, maka buru-buru oleh sekelompok orang Minang yang peduli dengan makanan nasional di-hak-paten-kan.

Tidak halnya dengan makanan ringan lokal dari Jogja ini. Berangkat dari keinginan kuat pendiri makanan ringan khas Jogja, yakni empat sekawan sarjana lulusan yang nggak mau ngikutin mainstream kebiasaan lulusan sarjana untuk jadi karyawan. Mereka berempat, Eko Yulianto, Fath Aulia Muhammad, Asyari Tamimi dan Febri Triyanto memilih wiraswasta berjualan stick singkong goreng. Hanya berawal dengan modal sebuah gerobak berwarna merah kuning dan mereka ciptakan merk Tela-Tela, mereka berempat berhasil menarik konsumen penyuka cemilan gorengan, bukan saja di Jogjakarta, tapi juga seluruh Indonesia setelah beberapa tahun kemudian. Maka tagline Tela-Tela yang terkenal "Singkong Gaul dengan Segudang Rasa" kini semakin sering nongol di berbagai media massa termasuk TV, seperti Kick Andi. Terbukti dengan setelah tayangan di Kick Andi, beberapa calon prospek pewaralaba (franchisor) menelpon dan berdatangan ke kantor pusatnya yang ada di Jogjakarta itu.

Keinginan kuat para pengusaha muda ini untuk mengangkat derajat singkong agar "selevel" dengan cemilan impor, juga didorong alasan untuk memberdayakan para petani singkong. Pengalaman berlari-lari mendorong gerobak sambil menenteng wajan berisi minyak goreng karena dikejar-kejar Satpol PP saat pertama kali berjualan, tak mematahkan semangat mereka. Hanya dalam waktu 2 tahun, sekitar 1200 outlet Tela-tela di seluruh Indonesia, telah memberikan omzet bagi 4 sekawan ini 2-3 Miliar per bulan. Dan kisah sukses ini pulalah yang membuat pasangan suami istri Hendro dan Esti membuka frenchise (waralaba) di Kota Bekasi.

Berangkat dengan modal 10 juta rupiah, yang itu berarti bisa mendapatkan 2 gerobak Tela-Tela dengan sistem waralaba di tahun 2007, kemudian akhirnya menjadi agen produk Tela-Tela untuk wilayah Bekasi 2, yang kini semua telah berjumlah 20 outlet. Dua outlet milik mereka dan delapanbelas outlet milik pewaralaba lainnya, kini sudah menyebar dengan radius terdekat 1km dari titik-titik lokasi outlet.

Jadi menurut Hendro, agen Tela-Tela wilayah Bekasi 2, mereka berdua memang sekarang lebih memfokuskan pada pengembangan jaringan waralaba, dimana sebagai agen Tela-Tela dia kini mampu mendistribusikan 200 s/d 300 bungkus tela beku yang siap dipasarkan dalam waktu 2 - 3 hari habis. Melihat itu kelanakuliner.com (dobeldobel.com) menghitung setidaknya, jika setiap bungkus tela beku bisa menghasilkan 6 pak Tela-Tela, maka ada 1200 - 1800 pak beredar di wilayah Bekasi. Sungguh suatu jumlah yang lumayan besar untuk pengusaha pemula.

Menurut Hendro, suami Esti, guru sebuah SMA negeri di Bekasi ini, dulunya ia berhenti dari perusahaan distributor consumer product setelah 15 tahun kerja, dan ia lebih senang fokus untuk berwiraswasta berdagang Tela-Tela serta memperluas jaringan waralaba Tela-Tela.

Kelebihan utama Tela-Tela untuk makanan yang nyaris serasa dengan frenchfries ini adalah keanekaragaman rasa yang sangat Indonesia. Apalagi harganya yang sangat terjangkau di kantong (Rp. 3.500,-/pak untuk Tela-Tela dan Rp.6.000,-/pak Frenchfries) bagi kebanyakan orang Indonesia.

Namun begitu menurut pengakuan Esti, kadang tiap daerah mempunyai omzet produk yang sesuai dengan demografi konsumennya. Misalnya untuk wilayah komplek perumahan di Taman Galaxi, omzet Kentang Goreng jauh lebih banyak dibandingkan dengan Tela Stick. Taman Galaxi bisa diklasifikasi sebagai konsumen kelas menengah atas. Sedangkan untuk daerah perumahan seperti di wilayah kediamannya Tytyan Kencana, Tela stick omzetnya jauh lebih besar.

Melihat perkembangan omzet dan minat pasar konsumennya, Hendro dan Esti juga akan memasarkan produk nugget (dengan bahan dasar singkong juga) Tela-Tela. Melihat bentuk, dobeldobel.com memperkirakan rasanya mungkin seperti combro, namun dalam ukuran yang lebih mini. Tapi jangan anda salah, ini bukan combro pada umumnya. Karena bila combro adalah parutan singkong yang kemudian diisi dengan misro berbumbu pedas dan gurih, sementara Nugget Tela-Tela adalah adonan singkong yang teksturnya seperti nugget daging ayam biasa, namun rasanya singkong khas dengan beragam rasa. dobeldobel.com sendiri hanya sempat mencicipi Tela Stick bumbu balado dan Frenchfries rasa keju. (dan sempat dibungkus dibawa pulang untuk oleh-oleh keponakan di rumah, hehehehe... lumayan kan). Masalah rasa, penulis berani bilang seperti halnya Bondan Winarno bilang, "Top Markotop, pokoke!"

Bila Anda ingin buka usaha Tela-Tela terwaralaba hanya dengan modal 5 juta rupiah saja, maka Anda bisa menghubungi Hendro & Esti di telp: 021-88979126 atau 021-6890.9102. Atau bisa langsung datang ke kediaman suami istri berputri 3 orang ini, di TyTyan Kencana Blok J3 No.4 Marga Mulya, Bekasi Utara. e-mail= ewiek@yahoo.com

---------------------------------------------------------------------------------

Tentang Tela Tela

Tela Tela berawal dari sebuah gerobak kecil, di Tambakbayan, sebuah desa kecil dipinggiran kota Yogyakarta, beroperasi pertama kali pada tanggal 24 September 2005 dengan menjual jajanan dengan berbahan dasar singkong mirip dengan frenchfries, yang sering juga disebut jogjafries, respon yang sangat baik akan hadirnya produk unik, enak dan terjangkau menjadikan Tela Tela menjadi makanan favourit di Yogyakarta pada tahun 2006. Setelah mencermati prospek bisnis sederhana namun sangat profitable ini maka para pendiri mencoba membuka dua outlet lagi di Jalan Wonocatur No 31, dan di RukoBabarsariPlaza. Pertengahan tahun 2006 banyak sekali para peminat usaha ini untuk bergabung, karena Yogyakarta adalah kota yang sangat plural, maka perkembangan Tela Telapun merambah seluruh nusantara..dan terus berkembang hingga sekarang..hingga menjadi sebuah waralaba yang sangat prospek untuk dikembangkan.

Visi Tela Tela

Menciptakan keuntungan jangka panjang untuk semua stakeholder

Misi Tela Tela

Menghadirkan produk makanan ketela yang enak dan inovatif kepada masyarakat dan Membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan serta lapangan usaha yang terjangkau.

Kantor Agen Bekasi 2:
Tytyan Kencana Blok J3,
No.4 Marga Mulya
Bekasi Utara
Phone: 021-7137.4254, 021-6890.9102
021-88979126
C/P.: Hendro & Esti

Kantor Pusat
:
Jl. Tambakbayan TB III No. 12
Yogyakarta 55281
Phone: 62- 0274 - 485356
C.P: Eko Yulianto, SE
Mobile: 0815 5850 7000

Domba Garut, Peluang Usaha Menembus Pasar Lokal & Dunia

Saturday, May 9, 2009

Sumber : Alex Evot Garut
Seringkali masih banyak orang yang keliru ketika membedakan antara domba dan kambing. Uniknya lagi adalah lebih dikenal kelezatan sate kambing dibandingkan sate domba. Apakah betul domba dan kambing itu sama? Atau keduanya memang jenis hewan ternak yang berbeda? Pada dasarnya domba dan kambing merupakan jenis hewan ternak pemakan rumput yang tergolong ruminansia kecil, keduanya pun populasinya hampir tersebar merata dan ada di seluruh dunia.

Namun bila kita melihat visual fisiknya dengan cermat maka domba berbeda dengan kambing. Postur tubuh domba cenderung lebih bulat dibandingkan dengan kambing yang ramping. Daun telinga kambing panjang dan terkulai. Bentuk bulu domba pun lebih ikal dan keriting sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bulu wool sedangkan lain halnya dengan kambing yang cenderung lurus. Hewan ternak domba yang ada sekarang diduga merupakan hasil dometikasi manusia dari 3 jenis domba liar: Domba Mouflon dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Domba Argali dari Asia Tenggara serta Urial dari Asia. Domba-domba ini awalnya diburu secara liar sampai akhirnya diternakkan oleh manusia. Dibandingkan dengan sapi, babi, kuda dan kerbau sebagai sesama hewan ruminansia, hewan ternak domba lebih dahulu memiliki nilai komersial sejak abad 7000 SM. Bahkan di Indonesia keberadaan hewan ternak domba dapat dilihat pada relief Circa 800 SM pada Candi Borobudur. Olehkarenanya tidaklah heran bila jumlah populasi domba adalah jauh lebih banyak dibandingkan dengan kambing di dunia. Data Food Agricultural Organization (FAO) tahun 2002, jumlah populasi domba dunia kurang lebih 1.034 milyar ekor sedangkan kambing hanya sekitar 743 juta. Populasi terbesar domba dan kambing dunia adalah di negara Tirai Bambu Cina, di mana negara kedua terbesar adalah Australia untuk domba dan India untuk kambing.

Sebagai bagian dari sektor usaha peternakan nasional, prosentase kebutuhan daging domba dan kambing masyarakat Indonesia adalah masih jauh di bawah sub sektor usaha peternakan lainnya seperti ayam/ unggas (56%), sapi (23%) serta babi (13%). Menurut data Ditjen. Peternakan – Deptan RI tahun 2005, konsumsi daging domba dan kambing di masyarakat memang masih sangat rendah yaitu hanya sekitar 5%.

Namun bila melihat potensi kebutuhan daging hewan ternak ini yang pada tiap tahunnya kurang lebih sekitar 5,6 juta ekor untuk kebutuhan ibadah kurban saja, dan belum termasuk kebutuhan pasokan untuk aqiqah, industri restoran sampai dengan warung sate kaki lima yang membutuhkan 2 – 3 ekor tiap harinya, pertumbuhan populasi domba dan kambing  adalah belum sebanding dengan angka permintaan yang terus meningkat. Potensi ini belum dihitung kebutuhan pasar di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, serta kawasan Timur Tengah yang tiap tahunnya membutuhkan kurang lebih 9,3 juta ekor domba. Di mana kebutuhan pasokan daging domba untuk kawasan Timur Tengah sampai saat ini masih dipenuhi oleh Australia dan Selandia Baru. Miris memang, di mana Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi masyarakat muslim terbesar di dunia sebenarnya lebih memiliki peluang untuk itu. Pertumbuhan populasi domba dan kambing di Indonesia adalah relatif kecil sedangkan permintaan terus meningkat seiring jumlah penduduk dan perbaikan pendapatan kesejahteraan masyarakat. Bukan mustahil suatu saat akan terjadi kelangkaan produksi daging domba dan kambing sehingga pelaksanaan ibadah kurban akan mengimpor dari Australia ataupun Selandia Baru. Di Indonesia, keberadaan populasi domba dan kambing hampir tersebar dengan merata di seluruh wilayah. Namun sayangnya pemeliharaan ternak domba dan kambing di negeri ini sebagian besar masih dalam skala kecil dan tradisional. Berbeda dengan Australia, pola peternakan intensif dengan dukungan teknologi telah menjadikan negara tersebut dapat menghasilkan produksi domba skala besar dan berkualitas. Bayangkan saja, total ekspor daging domba Australia ke negara Saudi Arabia pada tahun 2006 adalah setara dengan 3,6 juta ekor.

Populasi hewan ternak domba dan kambing terbesar pada akhir tahun 2006 ada di wilayah provinsi Jawa Barat yaitu kurang lebih 3,5 juta ekor atau sekitar 49% dari jumlah populasi nasional. Di provinsi ini bahkan terdapat jenis hewan ternak ruminansia kecil yang merupakan kekayaan plasma nutfah Indonesia serta menjadi ciri khas provinsi yang dikenal dengan julukan bumi parahyangan tersebut. Domba Garut, Ovies Aries, domba ini adalah hasil persilangan dari 3 rumpun bangsa domba: Merino - Australia, Kaapstad dari Afrika dan Jawa Ekor Gemuk di Indonesia. Domba Jawa Ekor Gemuk sudah ada sebelumnya sejak lama sebagai jenis domba lokal, Domba Merino dibawa oleh pedagang Belanda ke Indonesia  sedangkan Domba Kaapstad didatangkan para pedagang Arab ke tanah Jawa sekitar abad ke-19.

Domba Garut adalah jenis domba tropis bersifat profilik yaitu dapat beranak lebih dari 2 (dua) ekor dalam 1 siklus kelahiran. Di mana dalam periode 1 tahun, Domba Garut dapat mengalami 2 siklus kelahiran. Domba ini memiliki berat badan rata-rata di atas domba lokal Indonesia lainnya. Domba jantan dapat memiliki berat sekitar 60 – 80 kg bahkan ada yang dapat mencapai lebih dari 100 kg. Sedangkan domba betina memiliki berat antara 30 – 50 kg. Ciri fisik Domba Garut jantan yaitu bertanduk, berleher besar dan kuat, dengan corak warna putih, hitam, cokelat atau campuran ketiganya. Ciri domba betina adalah dominan tidak bertanduk, kalaupun bertanduk namun kecil dengan corak warna yang serupa domba jantan.

Domba Garut merupakan plasma nutfah terlangka di dunia karena postur hewan ternak ini nyaris menyerupai bison di USA.  Populasi Domba Garut terbesar di Indonesia tentunya ada di wilayah provinsi Jawa Barat dengan lokasi daerah penyebaran antara lain: Garut, Majalengka, Kuningan, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Sumedang, Indramayu dan Purwakarta.

Mungkin hampir sebagian orang lebih mengenal hewan ternak Domba Garut identik dengan domba aduan yang berlaga di arena adu ketangkasan. Domba Garut adalah hewan ternak eksotis. Memanglah betul bila sampai saat ini di kalangan masyarakat provinsi Jawa Barat masih menggemari adu ketangkasan domba, akan tetapi perlu untuk diluruskan bahwa arena adu ketangkasan yang ada sekarang tidak memperbolehkan pertarungan 2 ekor domba jantan sampai titik darah penghabisan. Telah dilakukan perubahan peraturan oleh organisasi Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) yang saat ini dipimpin oleh Drs. H.A.M Sampurna, MM. selaku ketua umum dan Drs. H. Uu Rukmana selaku ketua wilayah HPDKI provinsi Jawa Barat. Arena adu ketangkasan saat ini lebih menjadi arena seni dan budaya yaitu tempat bertemunya silaturahmi antar peternak, penghobi, show room, transaksi bibit domba berkualitas serta objek wisata. Beberapa nama seperti kang Ibing, dalang Asep Sunarya merupakan nama yang cukup dikenal sebagai penghobi dan pemilik Domba Garut berkualitas. Hobi memelihara ternak Domba Garut dijamin tidak akan kalah kepuasannya dengan memelihara jenis hewan lainnya seperti kucing, ikan dan sebagainya. Suatu kepuasan ketika tanduk Domba Garut jantan dapat terbentuk dan tumbuh maksimal ataupun dengan keindahan corak serta warna bulu yang dihasilkan. Sepatu boot, bertopi koboi, pakaian hitam adalah ciri penghobi ketika datang ke arena seni dan budaya adu ketangkasan. Dan jangan salah, harga 1 ekor ternak Domba Garut jantan berkualitas dikalangan penghobi dapat bernilai di atas 10 juta rupiah bahkan ada yang ratusan juta rupiah.

Namun yang patut dikhawatirkan pada kondisi saat ini adalah populasi Domba Garut berkualitas yang kian menyusut dan dapat terancam punah di mana bertolak belakang dengan sifat profilik yang dimilikinya. Kurangnya perhatian serius terhadap sektor usaha pembibitan menjadikan populasi Domba Garut unggulan agak sukar ditemukan. Dan ini pula yang menjadikan hewan ternak Domba Garut untuk kebutuhan ibadah kurban kian mahal harganya. Seperti yang diutarakan oleh Drh. Abdul Jabbar Zulkifli selaku Sekretaris Jenderal Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) dalam diskusinya dengan penulis belum lama ini.

Kondisi tersebut tentunya sangat disayangkan, terlebih bila kita tahu potensi ekonomis hewan ternak Domba Garut yang tidak hanya identik dengan domba aduan, kualitas daging Domba Garut juga memiliki nilai gizi yang cukup baik dibandingkan dengan kambing untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Bahkan tidak hanya dimanfaatkan dagingnya saja, kulit Domba Garut dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan jaket berkualitas. Data tahun 2005 yang didapat dari website kabupaten Garut, industri jaket berbahan baku kulit Domba Garut dapat menyerap 2.656 tenaga kerja dengan nilai ekspor Rp. 84,7 milyar ke berbagai negara tujuan seperti Singapura, Malaysia, Taiwan dan Australia. Kotoran ternak Domba Garut pun dapat memberikan keuntungan dan nilai manfaat bila diolah dengan baik yaitu sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, kebutuhan unsur hara pada tanaman dapat terpenuhi dengan pemberian pupuk organik hasil fermentasi berbahan baku kotoran domba yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan hasil produksi pertanian.  Seorang peneliti utama lulusan Jepang dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika – Bogor, Dr. Ir. Mesak Tombe, saat ini berhasil menemukan teknologi yang sudah mendapatkan hak paten untuk meningkatkan kualitas pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran ternak,  teknologi tersebut dinamakan Bio Triba. Dikemas dalam bentuk formula cair dengan kandungan mikroorganisme B. Pantotkenticus strain J2 dan T. Lactae strain TB1.

Teknologi yang ditemukan Dr. Ir. Mesak Tombe sangat membantu dalam proses pematangan kotoran ternak menjadi pupuk organik antara periode 1 – 2 minggu. Tidak hanya itu, teknologi ini juga dapat diaplikasikan pada pengolahan limbah organik pasar dan rumah tangga. Kelebihan lain teknologi ini adalah dapat berperan pula sebagai bio fungisida untuk pengendalian penyakit pada tanaman. Adalah tepat bila sektor usaha peternakan dan pertanian memang harus saling bersinergi. Terlebih lagi saat ini petani dalam posisi sulit diantara kenaikan biaya produksi sebagai akibat harga pupuk yang terus melambung, di sisi lain petani tidak bisa seenaknya menaikkan harga jual sehingga perolehan pendapatan semakin menipis. Terbesit gagasan pula untuk mengkombinasikan ternak Domba Garut dengan sektor perikanan air tawar. Design kandang ternak domba dibuat panggung di atas kolam ikan. Secara segmentasi pasar lokal, Domba Garut memiliki potensi pasar yang multi user. Seperti yang disampaikan oleh Agus Ramada selaku Direktur Utama Eka Agro Rama sebagai perusahaan agri bisnis yang concern dalam usaha ternak Domba Garut dan pertanian organik.  Dan ini yang menjadikan hewan ternak Domba Garut layak untuk dikembangkan sebagai pilihan dalam sektor usaha peternakan.

Potensi pasar terbesar pertama adalah hewan ternak Domba Garut untuk memenuhi kebutuhan tahunan ibadah kurban. Kemudian menyusul kebutuhan konsumsi daging harian baik itu rumah tangga, restoran dan warung sate. Selanjutnya adalah kebutuhan aqiqah, dan terakhir adalah penghobi yang selalu mencari bibit Domba Garut jantan unggulan. 

Penjelasan Dr. Ismeth Inounu, peneliti utama bidang pemuliaan dan genetika dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak – Deptan RI), yaitu pada kunjungannya ke lokasi peternakan Domba Garut Eka Agro Rama, kabupaten Bandung, provinsi Jawa Barat bulan April lalu, pemerintah saat ini memberikan perhatian serius untuk pengembangan sektor usaha pembibitan dan perbanyakan hewan ternak domba serta kambing antara lain Domba Garut.

Tidak hanya program pemuliaan galur murni untuk mengembalikan kualitas terbaik hewan ternak Domba Garut, akan tetapi program pengembangan domba komposit untuk dapat menghasilkan keturunan ataupun bibit unggulan baru juga sedang giat dilakukan. Berbagaimacam penemuan teknologi terkait reproduksi ternak domba terus dikembangkan untuk mempermudah upaya produksi dan perbanyakan domba berkualitas, sebagai contoh teknologi laserpuntur dan suntik hormonal yang akan sangat bermanfaat untuk sinkronisasi birahi dan perkawinan massal. Keberhasilan perkawinan domba lokal Sumatera dengan domba St. Croix dari Virgins Islands dan domba Barbados, kemudian Domba Garut dengan domba St. Croix serta Domba Moulton dari Prancis, adalah program pengembangan domba komposit yang berhasil dilakukan oleh Puslitbangnak – Deptan RI dari aplikasi penemuan teknologi tersebut.

Tidak hanya sebatas itu, di lokasi peternakan Eka Agro Rama juga telah berhasil program pengembangan domba komposit berupa perkawinan Domba Garut betina dengan Domba Suffolk pejantan dari Inggris, kemudian Domba Garut betina dengan pejantan Merino – Australia yang telah menghasilkan kualitas anakan dengan harapan akan jauh lebih baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi daging. Adalah Alam Yanuardi selaku Direktur Operasional yang dengan tangan dinginnya berhasil menjalankan program pengembangan domba komposit tersebut.

Dalam pengembangan usaha ternak Domba Garut maka Eka Agro Rama tidaklah bergerak seorang diri. Terlebih dengan potensi menembus peluang pasar lokal dan dunia yang masih cukup besar. Dirintis pula upaya kerjasama mulai dari sektor hulu sampai dengan sektor hilir untuk dapat mencapai tujuan usaha ternak yang diinginkan. Salah satu rekanan kerjasama yang senantiasa membantu Eka Agro Rama dalam pengembangan usahanya antara lain adalah Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika. Eksistensi Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika patut diacungi jempol dalam pengembangan sub sektor usaha peternakan domba kambing di Indonesia. Program Tebar Hewan Kurban dan 1001 Aqiqah yang sedang dijalankan oleh Kampoeng Ternak tidak hanya bertujuan untuk memajukan usaha ternak domba dan kambing di Indonesia, akan tetapi bertujuan pula untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dalam kebutuhan konsumsi daging domba. Seperti yang dijelaskan Purnomo, SPt selaku Direktur Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika. Eka Agro Rama sendiri saat ini lebih terfokus bergerak dalam sektor usaha pembibitan dan perbanyakan Domba Garut. Penyediaan Domba Garut berkualitas untuk kebutuhan kurban, aqiqah, restoran sampai dengan warung sate kaki lima adalah menjadi impian Kami, ucap Agus Ramada.

Dengan stock populasi Domba Garut yang semakin terbatas akibat banyak peternak yang enggan untuk membibitkan domba, Eka Agro Rama menerapkan sistem ban berjalan dengan penjualan Domba Garut lepas sapih. Domba Garut betina unggulan adalah mesin produksi dalam usaha ternak yang dijalankan. Namun tentunya usaha ini sangat memerlukan pula kerjasama dengan berbagai pihak baik itu dibidang produksi dan juga pemasaran.

Tidak mungkin selamanya Eka Agro Rama menambah kapasitas kandang dengan luas lahan yang terbatas. Peranan organisasi himpunan (HPDKI) di sini memiliki kontribusi yang besar untuk memetakan dan membina potensi jaringan produksi yang ada di mana selanjutnya dapat diarahkan pula kepada pintu pemasaran yang tersedia. Eka Agro Rama melalui kegiatan pelatihan yang diadakan bersama Agromania dan juga Kampoeng Ternak akan senantiasa mencari peternak-peternak baru yang tertarik dalam usaha pengembangan Domba Garut.

Tidak hanya sekedar pelatihan, fungsi pendampingan dan bimbingan teknis budidaya serta akses pintu pemasaran juga menjadi bagian penting dari kegiatan pasca pelatihan. Di mana selain itu harus dirangkul pula media informasi sebagai public sounding setiap program usaha peternakan yang dimiliki, tegas Agus Ramada. Peran Puslitbangnak bersama balai-balai yang ada dan dinas peternakan provinsi setempat sebagai basis ilmu pengetahuan juga tidak boleh diabaikan, hal ini amat diperlukan sehingga peternak tidak akan buta terhadap aplikasi teknologi terbaru.    

Tidaklah kecil tentunya pendapatan devisa negara yang dapat diperoleh dari pengelolaan usaha ternak Domba Garut intensif. Terlebih dengan potensi pasar kebutuhan daging domba di kawasan Timur Tengah sebanyak 30 ribu ekor tiap minggunya.  Bukan pekerjaan yang ringan dan mudah tentunya, akan tetapi bisa menjadi suatu peluang usaha yang menjanjikan bilamana kita mau mulai  berpikir dan bergerak ke arah sana. Long journey is begins with the small step. Salam Peternak Domba Sehat!

BUBUR AYAM BETAWI KHAS BEKASI di Kampung Dua, Patriot

Monday, May 4, 2009


H. BARUJEN: Pergi Haji ke Mekkah
Karena Usaha Dagang Bubur



Bekasi, dobeldobel.com
Sepulang dari tempat Turki, Klinik Bekam Alam Islami dan juga kantor periklanan dobeldobel.com, kami langsung meluncur ke arah Kalimalang. eh tanpa ngomong-ngomong, langsung aja Turki mampir ke Bubur Ayam Betawi khas Bekasi milik H. Bajere.

Ya udah tanpa bertanya lagi, saya pun ngikutin gayanya sang Bos Turki. Pas kami duduk, sang pemilik pak Haji sedang ada di pintu belakang. Turkipun menyapa dan memberikan salam. Pak Haji yang sudah lama buka Bubur Ayam Betawi di daerah Tanah Abang dan kenal dekat dengan beberapa pentolan senior Tenabang pada masa jadul (sebut saja Bang PI'ih, tokoh legendaris Betawi dari Petojo dan tanah Abang, yang kebetulan juga guru suilat dan ngajinya Turki), akhirnya kami pun terlibat pembicaraan ngalor ngidul sambil menikmati bubur khas Betawi.

Rupanya ada keistimewaan dari racikan bumbu kecap bubur ayam Betawi ini, yakni kecapnya diramu dan dicampur dengan kuah sayur buburnya menyatu dengan bubur ayam. Suwiran ayam dan butiran kacang kedelai yang lunak dan renyah memang lumayan lezat di lidah, apalagi sambalnya yang lumayan pedas menambah selera makan saya.... Padahal saya baru saja makan jam 3 sore tadi. Selepas maghrib, memang kami berniat langsung pulang dan Turki seperti biasanya bila mendapat rejeki lebih pulang ke rumah orangtuanya di bilangan Duren Sawit demi memberikan sekadar sedikit hadiah buat menyenangkan hati mereka... (Nah jadi tahu kan karakter si Jagoan GS ini sama ortunya... patut ditiru ya nggak?)

Eh ngelantur lagi... pokoknya kalo lu-elu pade mao ngerasain buburnye orang Betawi yang tinggal lama di Bekasi, yah di depan persis Masjid Hijau, Kampung Dua - Patriot, Bekasi. Jalan panjang dari Kranji tembus langsung ke Kalimalang, pasti ngelihat masjid Hijau ini di sebelah kanan eluh, tinggal lu lihat ke sebelah kiri lu, pasti ada banner tulisan gede Bubur Ayam Betawi nyang ngejogrok di atas entuh warung bubur.

Kalo mao tahu lebih pastinya buat mesen-mesen bubur khas Betawi ini, lu pan bisa telpon ama pak Haji di no ini: 021.88958801, ngkali ajah lu mao pesen buat hajatan pesta atawa nyang laennyeh... Okeh gue tunggu luh di sonoh, buat ngejogrok nongkrong dan gegares (tahu kan artinya? gegares = makan) Bubur Ayam Khas Betawi H. Barujen, kali aja ketemu pak Haji, jadi bisa tuker pikiran dan diskusi masaleh agame... Wuih die seneng banget kalo diajak ngomong soal gituan (agame maksudnye).

Sidik Rizal

Bakmi 'A-Boen' Gang Kelinci, Passer Baroe

LEGENDA MASAKAN CINA ASLI ALA BETAWI JADUL

Jakarta, dobeldobel.com (kelanakuliner.com)
Jangan keliru dengan ‘legenda’ bakmi gang kelinci yang terkenal dan sering dibicarakan orang Jakarta. Saat ini kita bisa mudah menemukan petunjuk restoran ‘BGK – Bakmi Gang Kelinci’ di hampir setiap mall/plaza di Jakarta. Tapi apakah BGK, seperti yang dimaksud di atas dan yang dibicarakan banyak orang, adalah ‘the real’ Bakmi Gang Kelinci?

Menurut selera pelanggan etnis Cina dan pengamatan kelanakuliner.com, Bakmi Gang Kelinci yang sebenarnya bukanlah ‘BGK’ yang banyak dikunjungi orang di banyak mal-mal atau pusat perbelanjaan. ‘The Real’ Bakmi Gang Kelinci,cuma satu : ‘Bakmi Gang Kelinci A-Boen’.

Kalau kita pergi berjalan di Gang Kelinci – Pasar Baru (dulu lebih dikenal dengan nama Passer Baroe), kita akan menemukan dua restoran bakmi yang kedua-duanya sama-sama meng-klaim sebagai bakmi gang kelinci. Restoran pertama, berada tepat di depan penjual Cakwe-Kuweh Bantal. Restoran ini adalah restoran BGK yang juga membuka banyak cabang di pusat-pusat perbelanjaan di Jakarta.

Restoran ditata dalam ruang tertutup berpendingin udara dengan kaca tembus pandang. Bangunannya pun termasuk bangunan modern yang merupakan bikinan baru. Bila kita memasuki Gang Kelinci, restoran yang ini akan kita lihat terlebih dahulu.

Bila kita sudah melewati restoran BGK ‘depan’ ini, kurang lebih 50 meter ke depan, kita akan jumpai restoran Bakmi Gang Kelinci ‘A-Boen’ di ujung gang yang menikung. Bangunan restoran ini tidak se-resik bangunan restoran BGK di depan. Gaya rumah pecinan kuno sangat kental dalam bentuk arsitektur rumah makan ini. Bakmi Gang Kelinci A-Boen inilah yang sangat direkomendasikan untuk anda coba kelezatannya…!!

Rahasia kelezatan ‘the real’ BGK ini tiada lain dari BAKMI yang dibikin sendiri oleh juru masakan restoran ini. Juru masak dapur restoran ini sejak tahun 70-an sampai saat ini (sudah kurang lebih 20 tahun..!) tetap tidak berubah..!! Para pelanggan dari kalangan etnis Cina kerap mengingatnya dengan sebutan ‘si engkoh’, yang dengan setia ia memasak bakmi dan meraciknya dalam mangkuk-mangkuk sesuai pesanan. Terkadang, bila restoran dalam keadaan penuh, ia pun turun tangan ikut menghidangkan mangkuk mangkuk bakmi sampai ke meja pengunjung!

Rasa gurih adonan tepung menjulur panjang di restoran ini yang ‘tiada tanding-tiada banding’, sepertinya menjadi rahasia kelezatan the real BGK ini. Apalagi bila anda pesan mie babi spesial ayam jamur. Ini menu unggulan yang direkomendasikan bila ingin anda pesan, terutama bagi pembaca yang belum pernah ke tempat ini sebelumnya. Hidangan ini terdiri dari mie khas BGK, dengan bumbu2 minyak khas, dicampur dengan semur ayam jamur yang dimasak dengan resik dan gurih, dan tahap akhir ditaburi ‘topping’ irisan daging babi merah-putih yang membangkitkan air liur penggemarnya. Jangan lupa memesan satu porsi pangsit goreng isi 8 untuk melengkapi santapan dengan kerenyahan dan kenikmatan rasanya. Untuk ukuran porsi perempuan, ukuran hidangan restoran ini ‘sangat nonjok’ rasanya (sangat membuat anda kenyang sekali, sekalipun anda pada awalnya sangat lapar).

Hidangan nasi campur, mie goreng, kwe-tiaw goreng dan hidangan oriental lainnya bisa menjadi pilihan lain di samping menu utama resto ini. Sejauh pengalaman pelanggannya mengunjungi resto ini, mereka selalu (dan tidak pernah bosan) tetap memesan mie babi ayam jamur yang jadi menu utama. Kalau sudah duduk di dalam, sepertinya tidak ingin mencoba yang lain, selain menu unggulan resto ini.

Bila anda pemakan makanan ‘halal’, bakmie A-Boen tentunya menyediakan hidangan mie tanpa babi - hanya ayam jamur dengan pangsit atau bakso - (pen:. namun tidak ada rekomendasi dari MUI loh, hehehehe!), jika anda memang tidak mau melewatkan nikmat lezatnya menu resto ini.

Nah..! Hati hati dengan bakmi gang kelinci...berhati hatilah…!! Maksud saya disini… jangan sampai salah pilih..!! Resto bakmi gang kelinci A-Boen – lah yang merupakan ‘the real’ BGK. (walaupun restoran satunya terlihat lebih ramai, lebih bersih dst..tapi soal rasa .... tergantung penggemarnya dan pelangganya lah).

Setelah seharian lelah mencuci mata dan berbelanja sepatu di Pasar Baru, suatu ‘happy ending shooping’ bila anda memutuskan untuk mengisi perut dengan menyantap lezatnya Bakmi Gang Kelinci A-Boen..!!

Resume
Nama dagang :
Bakmie Gang Kelinci ‘A-Boen’

Lokasi :

Gang Kelinci – Pasar Baru. Bila kita berjalan dari arah Jl.Pasar Baru Raya, Gang Kelinci berada di sebelah kanan, tepat pada perempatan toko buku Gramedia Pasar Baru. setelah anda masuk gang Kelinci, anda akan menemukan gang pertama di sebelah kiri jalan. Masuklah ke gang itu, dan berjalan sampai ujung. Sudah akan terlihat di ujung sana, tanda Bakmi Gang Kelinci ‘A-Boen’

Menu Unggulan :
Bakmi ‘babi’ ayam jamur plus pangsit goreng.

Ada menu buat penggemar gambar bugil, gambar model telanjang, abg telanjang, anak SMU & anak SMA telanjang, mahasiswi bispak, pake bikini seksi atau anak sma bispak

WARUNG ANGKRINGAN HOTSPOT baru di Durenjaya, Bekasi

Sunday, May 3, 2009

Warung Angkringan Hotspot
NASI KUCING R.I.
Prembun Kebumen SirnoboyoAsli



Bekasi, dobeldobel.com
Durenjaya, Bekasi ada Hotspot baru yang memang enak buat nongkrong, terutama buat anda yang mau main internet hotspot 24 jam penuh dan tinggal di dekat daerah Kota Bekasi. Walau Soft-launching nya buka pertengahan Mei tapi kamu bisa hunting lokasinya kini untuk cari tahu tempat hangout di Durenjaya, namanya Warung Angkringan Hotspot, Nasi Kucing R.I. dengan pelayanan dan makanan asli Prembun Kebumen Sirnoboyo.

Pengelolanya adalah Mas Sum, seorang duda dengan anak cowoknya yang ganteng seperti artis keren Vicky siapa gettu (gue lupa itu loh yang main film Rock n Roll barengan sama Nadya Chandrawinata... maklum lah gue kan cowok mana inget sama artis cowo... kalo cewek sih gpp!). Mas Sum adalah orang Prembun asli yang besar di desa Sirnoboyo, 5km sebelah selatan dari kota kecil Prembun Kabupaten Kebumen. Itulah sebabnya nama Warung angkringannya Prembun Kebumen, Sirnoboyo, demikian jelasnya sambil tersenyum.

Kayaknya neh warung angkringan hotspot bakal dipoenuhin sama abg cewek... abis gimana enggak, penjaga warungnya kayak bertampang model dan artis gitu... Coba ada pelayan ceweknya yang kayak model juga yah...? (kalo bisa yang kayak Luna Maya lah!)

Saat ditanya kenapa baru buka (soft launching) pertengahan bulan Mei, lelaki beranak dua ini mengatakan bahwa sebenarnya mau dibuka secara resmi di akhir bulan Mei. Namun karena pihak pemodal, bapak Nasution dan manajemen akan merenovasi seluruh rukonya menjadi Warung Angkringan yang nyaman, jelasnya.

Fasilitas yang ada selain Hotspot dan Televisi layar dinding (menggunakan Focus Projector langsung ke pesawat TV dan komputer), so kita bisa menikmati nonton bola bareng atau hanya sekedar berselancar di Internet sepuasnya dengan laptop masing-masing.

Adapun pilihan jajanannya yang serba ringan dan murah ini adalah sebagai berikut:

MAKANAN DIJUAL Harga
  • - Nasi Kucing Prembun ---------------------- Rp2.000,00
  • - Nasi Goreng Kebumen ---------------------- Rp2.000,00
  • - Nasi Uduk Sirnoboyo ---------------------- Rp2.000,00
  • - Nasi Kuning ala Nasution ---------------------- Rp2.000,00
  • - Bakwan ala Sidik ---------------------- Rp2.000,00
  • - Tahu Goreng ala Aris ---------------------- Rp2.000,00
  • - Tahu Isi ala mas Dian ---------------------- Rp2.000,00
  • - Tempe Goreng ala Eyang ---------------------- Rp2.000,00
  • - Ubi Goreng Medan ---------------------- Rp2.000,00
  • - Singkong Goreng Jawa ---------------------- Rp2.000,00
  • - Risoles Palembang ---------------------- Rp2.000,00
  • - Tahu Fantasi ---------------------- Rp4.000,00
  • - Pastel Daeng ---------------------- Rp4.000,00
  • - Lemper Isi ala Bali ---------------------- Rp4.000,00
  • - Arem-arem / Bacang ala Medan ---------------------- Rp4.000,00
  • - Lontong Biasa ala Eddy EW ---------------------- Rp2.000,00
  • - Pisang Coklat ala Makcik ---------------------- Rp2.000,00
  • - Pisang Goreng ala Makcik ---------------------- Rp2.000,00
  • - Sate Telur Puyuh ---------------------- Rp2.000,00
  • - Sate Usus Ayam ---------------------- Rp2.000,00
  • - Sate Ampela Ati ---------------------- Rp2.000,00
  • - Combro ala Abi ---------------------- Rp2.000,00
  • - Misro ala Ummi ---------------------- Rp2.000,00
  • - Martabak Telor ala Lulu ---------------------- Rp2.000,00
  • - Getuk Singkong ---------------------- Rp2.000,00
  • - Black Forrest Diana ---------------------- Rp2.000,00
  • - Kubik Donat ---------------------- Rp2.000,00

MINUMAN DIJUAL Harga
  • - Wedang Jahe Prembun ---------------------- Rp3.000,00
  • - Wedang Jahe Susu Kebumen ---------------------- Rp3.000,00
  • - Jahe Madu ala Sirnoboyo ---------------------- Rp3.000,00
  • - Kopi Tubruk ala Eyang ---------------------- Rp3.000,00
  • - Kopi Habbatussauda ---------------------- Rp3.000,00
  • - Kopi Ginseng ala Turki ---------------------- Rp2.400,00
  • - Kopi Susu ala mas Dian ---------------------- Rp2.000,00
  • - Kopi Jahe ala mas Sum ---------------------- Rp3.000,00
  • - Kopi Jahe Susu ala Yugo ---------------------- Rp3.000,00
  • - Jeruk Panas ala Rizal ---------------------- Rp3.000,00
  • - Es Jeruk ala Iin ---------------------- Rp3.000,00
  • - Softdrinks ---------------------- Rp3.000,00


Apalagi dia sedang masa promo, pihak manajemen WAH (Warung Angkringan Hotspot) Nasi Kucing R.I. sedang mengadakan quiz Trivia. Para calon pengunjung bisa menentukan sendiri nama lengkap kepanjangan dari akronim R.I. pada merk Nasi Kucing R.I. (atau NKRI).

Buat komentar dan penjawab terbaik mereka akan mendapat voucher diskon 50% atau senilai dengan Rp.100.000 untuk sepuluh orang.

Contoh :
R.I. = Ridho Ilaahi
R.I. = Republik Indonesia
R.I. = Restu Ibu
R.I. = Rasa Istimewa

Kirimkan e-mail ke bekasikukotaku@gmail.com atau sms ke 081.385.386.583, batas waktu hingga 30 Desember 2009

--------------------------------------------------------------------------------------------
Artikel Nasi Kucing Warung Angkringan lainnya:

Angkringan Dan Nasi Kucing


Mungkin temen2 sekalian pernah denger dari sodara2 atau teman2 yg kuliah di yogya apa itu nasi kucing apa itu angkringan


Angkringan adalah tempat berjualan berbagai macam makanan yang ada di hampir setiap ruas jalan dan gang Jogjakarta. Kalau boleh mendiskripsikan, angkringan itu berwujud seperti sebuah gerobak dorong yang berisi penuh makanan dan jajan, beroperasi di sore, malam dan dinihari dan menggunakan penerangan lampu senthir (kebanyakan) serta temaramnya lampu-lampu mercury jalanan Jogja.

Konsumen angkringan, meski sering dicap sebagai warung rendahan, pada kenyataannya terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari tukang becak, anak2 perantauan, mahasiswa, budayawan dan seniman, karyawan hingga eksekutif kadang tak sungkan menghabiskan malam untuk menyantap makanan dan minum teh jahe di Angkringan.

Perilaku konsumen pun bermacam-macam di sana. Ada yang hanya membeli untuk dibawa pulang, ada pula yang membeli, makan sebentar lalu pulang, namun yang paling sering ditemui adalah membeli, ngobrol, membeli lagi, dan ngobrol lagi di warung angkringan bersama rekan maupun “rekan-rekan” baru yang ditemui dan di kenal di sana. Otomatis, di angkringan tidak ada pembedaan strata sosial, agama maupun ras. Mereka semua sama di keremangan lampu senthir, sebagai sosok anak manusia yang makan dan minum dari tangan penjual yang sama.

Nasi kucing (atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan "segÄ kucing") bukanlah suatu menu tertentu tetapi lebih pada cara penyajian nasi bungkus yang banyak ditemukan pada warung angkringan. Dinamakan "nasi kucing" karena disajikan dalam porsi yang (sangat) sedikit, seperti menu untuk pakan kucing. Nasi kucing adalah sebentuk nasi rames, dengan menu bermacam-macam: tempe kering, teri goreng, sambal goreng, babat, bandeng, usus, kepala atau cakar ayam serta sate telur puyuh, yg semangkin nikmat kalau dibakar dahulu sebentar sebelum disajikan.

Nasi yang disajikan dapat berupa nasi biasa maupun nasi gurih (nasi uduk)dan di dalam porsi yg sedikit tersebut diberi lauk sambal bajak (cabe digoreng dahulu) dan sepotong kecil pindang bandeng goreng. Jika makannya ditemani minuman hangat berbahan dasar jahe (jahe coklat, jahe kopi, dan jahe teh) maka segala sakit kepala - masuk angin akan hilang dengan sendirinya. Di Solo dikenal dengan sebutan Sego Kucing Warung Hiik.

Nasi kucing dikenal di berbagai tempat di Jawa Tengah (termasuk Yogyakarta) dan sangat populer di kalangan mahasiswa karena harganya lumayan murah untuk ukuran kantong anak kos-kosan, selain itu rasanya juga pas di lidah orang Indonesia.

Kiriman Dari:
----------------------------------------------------------------------------------------------
Warung Angkringan ala Batam Jadi Tempat Mangkal Anak Muda
Selasa, 10 Pebruari 2009


Ada yang Mengira Pakai Daging Kucing

Krisis finansial, ternyata masih berbuah manis bagi sebagian warga. Sendy Sinnay, salah satunya. Warung angkringan Wonolopo yang baru ia dirikan sebulan, ternyata mendapat sambutan baik. Kini mereka berencana buka satu lagi di Batam Centre. Seperti apa kisahnya?

RIBUT SANTOSA, Batam

Mejanya berderet di hamparan karpet hitam memanjang di pinggiran parkiran Komplek Sulaiman Plaza, Nagoya, Batam. Penerangannya, hanya mengandalkan sinar lampu ruko di sekitarnya dan sorotan lampu kendaraan yang berseliweran di jalan Teuku Umar, Nagoya. Agak remang-remang, memang. Namun pengunjungnya lumayan ramai. Apalagi saat malam minggu, kadang sampai harus antre untuk bisa dapat meja.

Para pengunjung, terutama anak-anak muda betah berlama-lama nongkrong di warung dengan menu khas warung angkringan di Kota Yogyakarta dan Solo ini, seperti nasi kucing, wedang jahe, mendoan, telur bacem, teh tubruk, ceker bacem, dan lain-lain.

”Tempatnya santai, enak untuk ngobrol,” ujar Kamaruzaman, salah seorang pengunjung yang sampai menunggu 15 menit untuk mendapatkan meja.

Bagi sebagian warga Batam, terutama yang pernah kuliah di Yogyakarta atau pernah tinggal di Kota Gudeg, menu angkringan memang banyak memberi kenangan tersendiri. Harganya sangat terjangkau dan banyak membantu mahasiswa menekan biaya makan sebulan.

”Banyak yang merasa seperti sedang berada di Yogya setelah duduk dan melihat menu masakannya,” ujar Sendy Sinnay membuka obrolan ketika Batam Pos berkunjung ke angkringanya, malam minggu lalu.

Sementara bagi pengunjung yang belum mengenal menu makanan ini, tak sedikit yang penasaran dan mengajukan sejumlah pertanyaan yang membuat Sendy tersenyum. Pernah seorang pengunjung menanyakan soal menu nasi kucing. Pengunjung mengira pakai daging kucing, padahal menu itu hanya terdiri atas nasi, sambel, ikan teri atau telur dadar. Tak ada sedikit pun mengandung daging kucing atau daging yang lain.

Kata beberapa orang Yogyakarta, nasi ini dinamakan nasi kucing karena porsinya yang serba kecil plus ikan dan murah. Ada yang bilang karena ada ikan terinya jadi seperti makanan kucing. Malah ada juga di salah satu blogspot yang bilang, sebutan nasi kucing hanya untuk menghaluskan nama bahwa nasi ini untuk kelas berkantong cekak dan sangat terjangkau untuk pelajar dan mahasiswa. Namun terlepas dari makna nama itu, nama nasi kucing kini sudah cukup dikenal orang.

Pembelinya pun berkembang tak hanya sebatas yang berkantong cekak. Anak gedongan pun banyak yang jadi langganan.
Meskipun banyak mengadopsi menu nasi angkringan di Yogyakarta, namun Sendy lebih suka menyebut warungnya ini sebagai sebuah revolusi angkringan. Tanpa gerobak khas angkringan dan bangku untuk duduk. Semua pengunjung lesehan. Tampil di tengah kota dengan suasana lebih nyaman dan bersih. Murah tapi tidak terkesan murahan.

”Warung angkringan ini adalah warung wedangan khas Jawa seperti di Yogyakarta dan Solo yang sangat terkenal dengan kelezatan, keramahan, serta kemurahannya. Pokoknya kami usahakan sama seperti di tempat asalnya,” ujarnya.

Ditanya soal ide pendirian warung ini, Sendy mengaku warungnya terinspirasi oleh minimnya tempat nongkrong yang asyik, sehat, dan murah di Batam. Sebagai kota yang terus berkembang dan jumlah anak mudanya terus meningkat, Batam masih minim tempat nongkrong untuk anak muda yang terjangkau.

Ia lalu berfikir bagaimana membuat tempat yang asyik, pengunjung yang kebetulan banyak didominasi anak muda bisa ngumpul sama temen-temen sampai larut malem, nyantai, bisa sambil selonjoran, dan rebah-rebahan. Ia akhirnya ingat dengan menu angkringan Jogja yang terkenal murah meriah. ”Lama juga mikir idenya dulu, butuh perjalanan panjang,” ungkapnya.


Untuk mewujudkan idenya itu, lelaki yang juga aktif sebagai MC di sejumlah iven di Batam ini, mulai bergerak mencari dan mensurvei lokasi. Beberapa pemilik tempat yang menarik, ia lobi, hingga akhirnya ia mendapat lokasi di trotoar parkiran Komplek Sulaiman Plaza, seberang Hotel Puri Garden. Tempat sudah, tinggal tenaga kerja. Untuk menyuguhkan rasa masakan yang sama dengan angkringan di Yogyakarta, ia pun menyeberang ke Pulau Jawa mencari tenaga kerja yang trampil.

Setelah semua lengkap, awal Januari ia mulai melaunching warungnya. Namun di hari pertama buka ini, mereka sudah mendapat cobaan. Ia bersama empat anggotanya malah ikut kena razia KTP dan dibawa ke kantor polisi. Kebetulan saat itu polisi sedang gencar menggelar razia di seputaran Nagoya. ”Ini pengalaman tak terlupakan,” ujarnya.
Untungnya setelah didata, mereka pun akhirnya dilepaskan kembali dan uniknya, para anggota polisi yang merazia mereka saat itu, kini malah menjadi langganan di warungnya. ”Mereka malah sering makan di sini bersama temen-temannya,” ungkap Sendy.

Melihat warungnya makin hari makin ramai, ia dan temannya Totok berencana meluaskan usahanya. Mereka kini sedang mencari tempat strategis di Batam Centre. ***



Chat Box dengan Kami

Follow by Email

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. Global Bekasi - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger