Mengubah Jerami Kering Jadi Daging Sapi

Tuesday, August 31, 2010

Ihsani Aqiqah & Bursa Qurban

Indonesia masih kekurangan daging sapi. Kekurangan tersebut selama ini dipenuhi dari impor daging beku, sapi siap potong maupun sapi bakalan untuk digemukkan. Kendala utama yang mengakibatkan adanya kekurangan daging sapi tersebut adalah jumlah induk betina sapi kita hanya tinggal sekitar 11 juta ekor. Idealnya kita memiliki induk betika sekitar 14 sd. 15 juta ekor.

Namun di luar kendala kekurangan induk sapi tersebut, produktivitas sapi potong kita juga sangat rendah. Kalau sapi impor rata-rata mampu tumbuh dengan peningkatan bobot badan 1 kg per hari, maka sapi lokal kita hanya akan bertambah berat tara-rata 0,5 kg. per hari. 

Kendala produktivitas sapi potong kita antara lain disebabkan oleh kurangnya hijauan sebagai ransum, terutama pada musim kemarau. Di Jateng, DIY dan Jatim, limbah pertanian berupa tebon jagung dan jerami kering pun digunakan sebagai pakan sapi. Padahal nutrisi dari tebon dan jerami kering tersebut sudah sangat rendah. Makanan tambahan yang diberikan oleh peternak kepada sapi mereka hanyalah dedak (padi serta jagung), ampas tahu, tetes serta limbah pertanian lainnya. 

Namun di lain pihak, jerami padi banyak yang dibakar sia-sia. Di kawasan Karawang, Jawa Barat atau di sentra-sentra penghasil padi lainnya, sering kita saksikan pembakaran jerami kering di sawah-sawah. Padahal di lain pihak, para peternak sapi di Gunung Kidul (DIY) serta Wonogiri (Jateng) sedang kekurangan hijauan untuk pakan sapi mereka. 

Pola peternakan sapi rakyat di Jawa, Bali dan Lampung, agak berbeda dengan di luar Jawa/Bali/Lampung. Di Jawa/Bali/Lampung, ternak sapi selalu dikandangkan. Sementara di luar kawasan tersebut, sapi diliarkan di ladang-ladang atau hutan. 

Di Jawa/Bali/Lampung, peternak bisa berfungsi sebagai breeder, namun bisa pula sebagai penggemuk sapi kereman. Yang dimaksud sebagai breeder adalah, yang mereka pelihara sapi betina. Hasil yang mereka harapkan adalah anak sapi. 

Biasanya untuk proses pembuntingan, mereka menggunakan cara inseminasi buatan (kawin suntik). Kalau anak yang diperoleh jantan, akan digemukkan sebagai sapi potong. Apabila betina akan dibesarkan sebagai calon induk. Keuntungan dari memelihara induk sapi betina ini relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan memelihara sapi bakalan untuk digemukkan sebagai sapi potong. 

Namun para peternak sapi di Jawa/Bali/Lampung biasanya tidak merasa dirugikan dengan memelihara sapi betina, sebab mereka juga sekaligus menggemukkan sapi jantan hasil peternakan mereka. Selain itu, di kawasan ini sapi betina tersebut juga bisa berfungsi sebagai tenaga kerja membajak sawah. Hingga di Jawa/Bali/Lampung, peternak tidak pernah membeda-bedakan fungsi peternakan mereka, apakah sebagai breeder atau sebagai penggemuk sapi kereman.

Jenis sapi lokal yang banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia adalah sapi zebu, peranakan ongole (PO), sapi bali, sapi madura (silangan alami antara zebu, ongole dan bali), american brahman dan australian brahman. Kadang-kadang, di masyarakat juga kita jumpai jenis sapi yang tidak lagi ketahuan galur/rasnya. Sebab di kalangan masyarakat pedesaan, dulu ada kebiasaan untuk mengawinkan sapi betina mereka, tanpa pernah memperhitungkan jenis pejantannya. Akibatnya sapi PO bisa kawin dengan sapi madura, sapi brahman dan sebagainya. 

Keturunan yang diperoleh, tentu menjadi tidak murni lagi. Dulu, perkawinan sedarah (inbreeding) atau antar saudara, juga ikut pula memerosotkan kualitas sapi yang ada. Terjadi degradasi kualitas sapi yang ada di masyarakat. Upaya pemerintah dengan melakukan inseminasi buatan, berikut penyuluhan kepada para peternak, telah memperbaiki kualitas sapi rakyat. Hingga sekarang galur sapi yang dipelihara masyarakat kembali jelas. 

Di Jawa dan Lampung, rata-rata masyarakat memelihara sapi zebu, PO atau brahman. Di Madura tentu sapi madura sementara di Bali sapi bali. Sapi madura dan sapi bali ini banyak pula dipelihara di  NTP dan NTT. Di kawasan transmigran atau pemukiman lain di Luar Jawa, Madura, Bali dan Lampung, sapi yang dipelihara tergantung dari masyarakat pemukimnya. Meskipun sekarang ada kecenderungan masyarakat untuk lebih memilih sapi bali serta madura karena  daya tahanannya yang relatif tinggi terhadap kekurangan hijauan maupun serangan penyakit.     

Dengan harga sekitar Rp 12.500,- per kg. hidup, dengan bobot rata-rata sekitar 300 sd. 400 kg. maka harga beli sapi jantan bakalan untuk digemukkan sekitar Rp 3.750.000,- sd. Rp 5.000.000,- Sapi-sapi lokal kita rata-rata akan mencapai pertambahan bobot hidup 0,5 kg. per hari. Sementara bakalan impor mampu tumbuh 1 kg. bobot hidup per hari. Namun biaya pakan dan perawatan sapi impor juga lebih tinggi dari sapi lokal. Sementara harga per kg. bobot hidup sapi impor, justru lebih rendah dibanding sapi lokal. Ibaratnya harga ayam broiler dengan ayam kampung. 

Dengan pertambahan bobot hidup 0,5 kg. per hari, kalau harga per kg. bobot hidup Rp 12.500. maka akan diperoleh marjin kotor Rp 6.250,- per hari. Dengan menggunakan pola menggaduh (maro), maka 50% dari marjin tersebut merupakan hak bagi pemilik modal. Hingga hak bagi pemelihara hanyalah Rp 3.125,- per ekor per hari. 

Dari marjin tersebut, 50% untuk biaya pakan. terutama konsentrat. Sebab hijauan biasanya akan dicari sendiri oleh si pemelihara. Hingga nilai "upah" bagi pemelihara sapi potong adalah Rp 1.562,50 per hari. Dengan kemampuan menggemukkan rata-rata sekitar 4 ekor, maka nilai penghasilan tenaga buruh penggemukan sapi adalah Rp 6.250,- per hari, dengan jam kerja antara 2 sd. 3 jam. Jam kerja ini akan digunakan untuk mencari hijauan, membersihkan kandang, memberi minum, memandikan sapi dll. Nilai upah ini setelah jangka waktu penggemukan selesai, biasanya 3 bulan, adalah Rp 140.625,- per ekor atau Rp 562.500,- untuk 4 ekor sapi.


Kalau penggemukan sapi ini dilakukan secara bisnis, maka nilai biaya yang harus dikeluarkan oleh investor adalah Rp 3.125,- per ekor per hari untuk sapi lokal, dan Rp 6.250,- per ekor per hari untuk sapi impor. Nilai biaya tersebut akan dialokasikan untuk penyusutan kandang, peralatan, perijinan dll, untuk pakan, obat-obatan serta tenaga kerja, termasuk untuk biaya manajemen. Jumlah minimal sapi lokal yang bisa digemukkan boleh hanya satu ekor dan sudah menguntungkan. 

Namun pada sapi impor, ada batasan minimalnya. Sebab mendatangkan sapi bakalan dari Australia, minimal harus satu kapal sebanyak sekitar 2.000 ekor. Hingga angka minimal yang harus digemukkan per angkatan adalah 2.000 ekor. Meskipun sekarang sudah ada pola "nempil". Seorang investor yang hanya memiliki modal untuk menggemukkan 20 ekor, bisa patungan dengan dua atau tida investor lain hingga terkumpul 40 sd. 60 ekor. Jumlah ini diusahakan untuk nempil (membeli sebagian kecil) dari pengusaha feedlot yang melakukan impor sapi bakalan. 

Apabila investor kecil tersebut sudah dikenal baik oleh importir, biasanya akan diberi "tempilan" sejumlah yang dibutuhkannya. Bahkan importir yang biasanya juga pengusaha penggemukan tersebut, akan menjamin pula pemasarannya apabila usaha yang dilakukan oleh si investor kecil tersebut berhasil. Patokan keberhasilan ini ditandai dengan angka mortalitas nol dan laju pertumbuhan minimal 1 kg. per ekor per hari. 

Komponen utama usaha penggemukan sapi potong adalah pakan. Dalam penggemukan berskala bisnis modern, pakan utama adalah konsentrat plus silase. Hijauan, baik segar maupun kering hanya diberikan sekadar untuk "lauk pauknya". Sementara dalam penggemukan secara tradisional, pakan utama adalah hijauan (juga segar maupun kering), sementara pakan tambahannya hanya berupa dedak, ampas tahu, ampas singkong, tetes tebu dan pakan lain sesuai dengan ketersediaan setempat. 

Karenanya pertambahan bobot hidup rata-rata pada penggemukan secara tradisional hanyalah 0,5 kg. per hari. Meskipun sapi yang digemukkan merupakan bakalan impor, dengan pola penggemukan tradisional, sulit untuk mencapai pertumbuhan bobot hidup 1 kg. per hari. Sementara sapi lokal pun, apabila digemukkan dengan pakan utama konsentrat dan silase, sementara hijauannya hanya merupakan pakan tambahan, akan mencapai pertumbuhan bobot hidup lebih dari 0,5 kg per hari. 

Pada akhirnya, yang akan menentukan untung ruginya penggemukan sapi potong adalah komponen biaya pakan ini. Apabila kita bisa menemukan pakan yang mampu meningkatkan bobot hidup tinggi namun harganya murah, maka tingkat keuntungannya akan bertambah. Sebaliknya, penggunaan konsentrat pabrik secara berlebihan, akan menelan biaya tinggi, hingga pertumbuhan bobot hidup yang dicapai tidak mampu lagi menutup biaya pakan. 

Hijauan murah yang selama ini masih belum termanfaatkan dengan baik untuk usaha penggemukan sapi potong adalah jerami padi. Kalau kita lewat kawasan Pantura atau sentra penghasil padi lainnya selama musim panen raya, maka akan tampak jerami yang dihamparkan di tengah sawah dan setelah kering langsung dibakar. Api (panas) yang ditimbulkan akibat pembakaran jerami ini, sebenarnya merupakan energi yang masih bisa diubah menjadi protein melalui pencernakan sapi. 
Di Gunung Kidul, DIY, pada musim kemarau sapi hanya diberi pakan jerami dan tebon (batang jagung) kering. Selulosa ini tentu sangat rendah gizinya. Namun di tahun 1950an, ketika pupuk urea diperkenalkan ke masyarakat, peternak di Gunung Kidul punya gagasan unik. Kalau mes (urea) bisa menyuburkan tanaman, mestinya juga bisa menggemukkan sapi. 
Maka mereka pun memberi sapi mereka sedikit urea pada minumannya. Biasanya air minum sapi ini dicampur dengan tetes, ampas singkong atau dedak. Di luar dugaan, ternyata sapi yang hanya diberi jerami dan tebon kering ini setelah mendapat urea benar-benar jadi gemuk. Dalam rumen (lambung sapi), memang terdapat bakteri penghancur selulosa. Dengan adanya starter urea plus karbohidrat, bakteri tersebut akan tumbuh pesat dan menghancurkan selulosa. Karena penghancuran jerami dan tebon kering ini dibantu oleh jutaan bakteri, maka penyerapan nutrisinya menjadi lebih optimal. Sementara bangkai bakteri berupa protein itu, merupakan gizi tambahan yang luarbiasa. (R) ***           

sumber: http://foragri.blogsome.com/mengubah-jerami-kering-menjadi-daging-sapi/

d' belanga - Nasi Guling Bakar Inovasi Kuliner Bekasi

Sunday, August 22, 2010

Berburu Sensasi Gurih Garing
Nasi D' Belanga vs Nasi Guling Bakar

Nasi d' belanga
Rawapanjang - Bekasi www.kulinerkuliner.com
Bangsa Indonesia adalah termasuk salah satu bangsa Asia yang mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok sehari-hari. Di seluruh kawasan Asia, beragam macamnya olahan nasi mulai dari jenis bubur (porridge) hingga nasi putih (steam rice) dan nasi goreng (fried rice).

Bangsa Indonesia yang beragam suku ini pun ternyata juga memiliki aneka makanan pokok selain nasi. Namun untuk makanan pokok berbahan nasi saja ada belasan bahkan mungkin lebih dari 30 cara untung mengolah nasi di seluruh daerah.

Resto yang sajikan olahan nasi unik
Coba saja di daerah Sumatera, Jawa dan Sulawesi termasuk Bali, aneka olahan nasi dan beras ketan (walau beda rasa dan nama, tapi masih dalam satu ordo), mulai dari beras yang dimasak dalam aneka daun hijau. Misalnya Bacang, Lontong, Ketupat, Lepat, Uli, Arem-Arem, Nasi Bakar, Nasi Uduk, Nasi Ulam, Nasi Jambal dan lain-lain.

interior d' belanga the Resto
Untuk masakan nasi goreng atau bubur, wah jangan ditanya deh. Sepertinya setiap daerah punya banyak cara untuk mengolah dengan cara masak ini. Demikian juga dengan aneka masakan yang menggunakan tempat masak unik seperti Nasi Tim, Nasi Timlo, Nasi Timbel, Nasi Kastrol, Nasi Kebuli, Nasi Tumpeng, Nasi Liwet dan banyak lagi lainnya.

Di Bekasi sepertinya ada beberapa tempat yang mulai menyajikan masakan berbahan baku nasi ini, khususnya yang menggunakan daun atau justru tempat masak yang unik lainnya seperti kendil atau belanga yang terbuat dari keramik tanah liat.

Nasi yang dimasak dalam sebuah bejana tanah liat atau lebih akrab dikenal sebagai kendil dan belanga kini hadir di d' Belanga Resto. Sepertinya hanya di tempat ini saja yang menyajikan nasi bakar yang dicampur dari nasi racik (nasi dengan bumbu rempah-rempah khusus) beserta beberapa sayuran dan lauk seperti suwiran daging ayam. Sepintas mirip nasi campur (meski namanya nasi racik bagi sang pemilik) tapi penyajiannya yang istimewa. Semua nasi racik tersebut di sajikan di dalam belanga (kendil tanah merah) yang kemudian dibakar kembali hingga timbul kerak garing yang luar biasa nikmat saat disantap panas-panas.

Justru di sinilah uniknya Nasi d' Belanga yang jauh lebih nikmat disantap saat panas-panas setelah dari pembakaran kompor. Kalau sudah mencicipinya mungkin Anda akan teringat dengan Nasi Hainam (bukan Nasi Vietnam ya! Hihihi)

Selain kelezatan dan gurihnya Nasi d' Belanga Anda juga bisa menikmati Nasi Guling Bakar. Saat kulinerkuliner.com menikmati sebuah Nasi Guling Bakar yang meski sudah dingin, namun setelah saya panaskan dengan Magic Jar, terasa hangatnya jauh lebih suweddap! Apalagi kalau bisa dinikmati langsung dari tungku pembakaran. Mungkin Nasi Guling Bakar pantas direkomendasi buat sajian buka puasa yang lumayan lezat serta menyehatkan dan pastinya mengenyangkan.

Berbuka dengan menu sajian Nasi Guling Bakar ala d' belanga The Resto, bikin saya ketagihan. Kayaknya perlu untuk direkomendasi kepada para pembaca atau juga pemirsa televisi (huwaduh seolah-olah sudah masuk program tivinya Trans aja!)

Ayam Goreng Kalasan Kremes
Tapi sepertinya kurang lengkap kelezatan nasi gurih kalau kita tidak menikmati lauk-pauknya. Pilihan kulinerkuliner.com jatuh pada Ayam Kalasan Kremes yang beda banget dengan ayam bakar dan goreng lainnya yang pernah kami rasakan.

d' Belanga Resto
Ayam Kampung Kalasan Kremes ini memang dalam dua bentuk sajian, baik itu digoreng maupun dibakar. Tapi keduanya mempunyai kelezatan yang khas dan tersendiri sesuai dengan selera siapapun. Bila Ayam Bakar Kalasan Kremes di d' belanga Resto seolah seperti masakan ayam ungkeb kemudian dibakar sehingga rempah bumbunya saja menjadi satu dengan daging ayamnya. Oh iya, perlu ditambahkan bahwa daging ayam yang disajikan adalah ayam kampung. Hmmm nggak usah kuatir buat Anda yang tak suka dengan ayam negeri alias ayam broiler kan?

Terlebih lagi sambalnya yang unik. "Sebenarnya  ini adalah sambal khas ala D'Belanga," papar Ibu Lina. sang pemilik. Sambal khas ala D' Belanga adalah sambel cabe hijau yang menggunakan rebon (udang kering) dan juga bawang putih. Meski tanpa garam, namun gurih dan asinnya pas di lidah kebanyakan orang. Hmmm muantaaabbbbssss!

Kalau mau dibilang ini adalah ayam goreng dan bakar terlezat di kawasan Jalan Cut Meutia Bekasi atau mungkin di seluruh kawasan Rawa Panjang. Ya kami berani bertaruh kayaknya nggak ada ayam bakar maupun ayam goreng selezat ini di seluruh Kelurahan Rawapanjang Bekasi. Coba saja Anda berkunjung dan datang ke tempat ini, sebuah ruko yang lokasinya tepat di satu pojokan perempatan lampu merah Rawapanjang Bekasi.

IDE AWAL DARI KULINER HINGGA KE NEGERI CHINA

Marlina, the owner of d' belanga
Untungnya kulinerkuliner.com bertemu dengan pemilik d'belanga resto, yakni sepasang suami istri, Hartono dan Marlina  Bila sang suami , Hartono hobinya berkelana kuliner dari seluruh tempat makan yang ada di kawasan Jakarta dan Bekasi hingga ke negeri China (mana lebih enak sih nulisnya, China atau Cina?), maka lain halnya dengan sang istri yang sangat hobi memasak. Kebetulan orang tua mereka, sang ibu juga sangat handal dalam hal memasak. Sang ibu yang kelahiran Palembang itu memang sangat ciamik mengolah aneka masakan dengan bumbu yang jauh lebih berani (spicy banget deh Cuy!).

"Kalau di China, saya pernah jumpai Nasi Hainam lokal tersebut yang rasanya terlalu hambar untuk lidah saya sebagai orang Indonesia. Kita kan biasanya suka dengan rasa bumbu-bumbu yang berani dan nendang," ungkap lelaki yang masih aktif bekerja di sebuah perusahaan swasta ini yang diamini oleh istrinya, Bu Lina.

Bu Lina, wanita berkacamata ini juga menambahkan bahwa mereka kini sering sekali medapatkan pesanan nasi kotak dari perusahaan dari kolega dan pelanggan yang pernah menikmati makanan di D' Belanga. Perusahaan yang kini paling sering memesan untuk kegiatan training pegawai adalah PT Kalbe Farma di Cikarang dan PT Astel (Aneka Spring Telekomindo).

Daftar Menu D' Belanga

- Nasi D' Belanga - Rp 10.000,-
- Nasi Guling Bakar - Rp 7.500,-
- Ayam Kampung Goreng/Bakar Kalasan Kremes - Rp 10.000,-
- Bebek Pedas - Rp 17.500,-
- Sayur Asem - 5.000,-
- Nasi - Rp 3.500,-
- Nasi Racik - Rp 4.500,-

Paket A - Rp 17.500,-
(Nasi Racik, Ayam kalasan, Sayur Asem, Lalapan, Sambal kalasan, Es Teh)

Paket B - Rp 20.000,-
(Nasi D'Belanga, Ayam Kalasan, Lalapan, Sambal Kalasan, Es Teh)

- Aneka minuman botol
- Aneka jus buah
- Teh manis dan Teh tawar panas dan dingin

Menu Paket Nasi Box

sidik rizal - www.bukankelanakuliner.com

Testimoni

Wednesday, August 18, 2010


Memuaskan dan tidak mengecewakan

Assalamu'alaikum Wr. Wb,
Alhamdulillah, kemarin kami melaksanakan aqiqah untuk putra pertama kami menggunakan jasa Ihsani Aqiqah. Awalnya, saya mencari informasi jasa aqiqah ke berbagai media termasuk internet. Akhirnya, kami sekeluarga tertarik dan sepakat untuk mempercayakan ibadah ini pada Ihsani Aqiqah. Saya melakukan pemesanan via internet dan telpon. Mungkin saya termasuk konsumen yang cerewet karena sering telpon tanya ini itu, untung petugasnya ramah-ramah dan sabar. Alhamdulillah, acaranya berlangsung dengan baik dan lancar. 

Ihsani Aqiqah memuaskan dan tidak mengecewakan. Saya pesan jam 8.00 WIB sampai 7.30 WIB. Padahal, saya sedikit khawatir bila tidak tepat waktu karena alasan kemacetan dan jarak yang jauh dari alamat Ihsani Aqiqah tersebut. Tapi kekhawatiran itu ternyata tidak berlaku. Terimakasih banyak untuk Ihsani Aqiqah. Semoga kita menjadi orang-orang yang dimuliakan oleh Allah SWT. Amin. Wassalamu'alaikum Wr. Wb (Endang - Harapan Indah Bekasi)

Chinese Food RAMANDHA - Pekayon

Tuesday, August 17, 2010

Pesanan Antar Meledak di Bulan Puasa
Menu Masakan 100 % Halal

Pekayon - wisatakuliner.blogspot.com
Bulan puasa ternyata menjadi berkah tersendiri bagi beberapa pengusaha resto. Salah satunya adalah Ramandha, salah satu resto masakan Chinese Food (di bannernya ditulis unik dengan nama "Chienese Food" Ramandha).

Saat berjalannya bulan puasa, memang banyak resto yang tidak buka atau beroperasional di siang hari. Apalagi ada beberapa peraturan pemerintah daerah yang akan memberikan sanksi terhapa usaha resto yang tetap buka di siang hari. Tanpa perlu penyesuaian waktu buka, ternyata justru resto mendapat kesempatan mendapatkan pelanggan melalui pemesanan via telepon. Jadi berkahnya bulan puasa tetap bisa dirasakan oleh banyak pengusaha resto tanpa harus tutup di siang hari.

Resto yang menyajikan masakan khas ala oriental China ini memang hanya ditangani oleh satu koki, yakni sang pemilik sekaligus pengelola Ramandha resto. Saat berkunjung ke resto ini pun kulinerkuliner.com tak mempunyai banyak waktu selain mengolah masakan yang memang sudah menjadi pesanan beberapa pelanggan via telepon. Ya pada saat itu memang tak nampak pengunjung di restauran yang sedikitnya memiliki 6 meja masing-masing 4 kursi. Kami pun maklum, bila sang pemilik sibuk memasakkan entah berapa puluh pesanan yang sedang dimasakkannya.

Kulinerkuliner.com akan mewawancarai kemudian biar mendapatkan profil sang pengusaha resto masakan khas China ini. Sementara ini kami sajikan menu masakan China yang bisa Anda pesan antar via telepon.

MENU MASAKAN CHINESE FOOD
RAMANDHA
Jl. Raya Pekayon No. 39 Bekasi Telp (021) 9346.1965 (021) 9823.1736 - 8241.5047
Buka Setiap Hari Jam 10:30 - 22.00
Pesanan Antar minimal 2 porsi diantar ke tempat hanya untuk daerah:
PPI (Pondok Pekayon Indah), Kemang Pratama, Delta, Century, Peninsula, PML, Villa Galaxy, Puri Asih, Depnaker, Cendana, Jaka Kencana, Surya Mandala, Cocacola dan Pemda Kota Bekasi

- I Fu Mie - Rp 20.000,-
- Lo Mie - Rp 23.000,-
- Lo Bihun - Rp 23.000,-
- Lo Kwetiaw - Rp 23.000,-

- Bakmi Masak / Kuah - Rp 21.000,-
- Bakmi Siram - Rp 24.000,-
- Bakmi Goreng - Rp 23.000,-
- Bakmi Goreng Sapi - Rp 25.000,-
- Bakmi Goreng Sea Food - Rp 25.000,-

- Bihun Masak / Kuah - Rp 21.000,-
- Bihun Siram - Rp 24.000,-
- Bihun Goreng - Rp 23.000,-
- Bihun Goreng Sapi - Rp 25.000,-
- Bihun Goreng Sea Food - Rp 25.000,-

- Kwetiaw Masak / Kuah - Rp 21.000,-
- Kwetiaw Siram - Rp 24.000,-
- Kwetiaw Goreng - Rp 23.000,-
- Kwetiaw Goreng Sapi - Rp 25.000,-
- Kwetiaw Goreng Sea Food - Rp 25.000,-

- Nasi Goreng - Rp 23.000,-
- Nasi Goreng Sapi - Rp 25.000,-
- Nasi Goreng Pete - Rp 25.000,-

- Nasi Goreng Sea Food - Rp 25.000,-

- Nasi Cap Cay - Rp 24.000,-
- Nasi Cah Tahu - Rp 24.000,-
- Nasi Cah Jamur - Rp 26.000,-

- Cap Cay Cah Polos - Rp 24.000,-
- Cap Cay Cah Sapi - Rp 26.000,-
- Cap Cay Kuah - Rp 24.000,-
- Cap Cay Cah Sea Food - Rp 26.000,-

- Kangkung Cah Terasi - Rp 18.000,-
- Kangkung Cah tauco - Rp 18.000,-
- Kangkung Cah Udang - Rp 26.000,-
- Kangkung Cah Udang Pete - Rp 28.000,-

- Kailan Cah Polos - Rp 18.000,-
- Kailan Cah Udang - Rp 26.000,-
- Kailan Cah Ayam - Rp 26.000,-
- Kailan Cah Cumi - Rp 26.000,-
- Kailan Cah Sapi - Rp 28.000,-

- Fu Yung Hai - Rp 23.000,-
- Pak Lay Cah - Rp 28.000,-
- Pak Lay Kuah - Rp 30.000,-
- Sapo Tahu - Rp 34.000,-
- Ang Sio Tahu - Rp 28.000,-
- Ang Sio Tahu Sea Food - Rp 30.000,-

- Tahu Cah Tausi - Rp 28.000,-

- Mun Tahun Rp 24.000,-

- Ayam Goreng Kecap - Rp 32.000,-
- Ayam Goreng Saus Mentega - Rp 32.000,-
- Ayam Rica- Rica - Rp 34.000,-
- Ayam Cah Sayur Asin - Rp 32.000,-
- Ayam Asam Manis - Rp 32.000,-
- Ayam Kuluyuk - Rp 32.000,-
- Ayam Bistik - Rp 33.000,-
- Ayam Goreng Tepung - Rp 32.000,-
- Ayam Cah Jamur - Rp 32.000,-
- Ayam Cah Kembang Kol - Rp 32.000,-
- Ayam Sop Kacang Polong - Rp 32.000,-
- Ayam Lapis - Rp 32.000,-
- Ayam Nanking - Rp 32.000,-

- Cumi Cah Jamur - Rp 32.000,-
- Cumi Goreng Saus Mentega - Rp 32.000,-
- Cumi Asam Manis - Rp 32.000,-
- Cumi Saus Siram - Rp 32.000,-
- Cumi Goreng Tepung - Rp 32.000,-

- Udang Asam Manis - Rp 32.000,-
- Udang Saus Tiram - Rp 32.000,-
- Udang Goreng Saus Mentega - Rp 32.000,-
- Udang Rica-Rica - Rp 34.000,-
- Udang Goreng Tepung - Rp 32.000,-
- Udang Cah Jamur - Rp 32.000,-
- Udang Cah Kembang Kol - Rp 32.000,-
- Udang Cah Pete - Rp 32.000,-

- Lindung Goreng Saus Mentega -  Rp 32.000,-
- Lindung Cah Kailan - Rp 32.000,-
- Lindung Saus Tiram - Rp 32.000,-
- Lindung Rica-Rica - Rp 34.000,-

- Sapi Lada Hitam - Rp 34.000,-
- Sapi Bistik - Rp 33.000,-
- Sapi Kuluyuk - Rp 32.000,-
- Sapi Lapis - Rp 32.000,-
- Sapi Sop Kacang Polong - Rp 32.000,-
- Sapi Cah Jamur - Rp 32.000,-
- Sapi Rica-Rica - Rp 34.000,-

- Ikan Gurame Kuah Sayur Asin - Rp
- Ikan Gurame Goreng Tepung - Rp
- Ikan Gurame Asam Manis - Rp
- Ikan Gurame Tahu Tausi - Rp
- Ikan Gurame Rica-Rica - Rp

- Nasi Putih - Rp 4.000,-

Memahami Makna Idul Adha

Sunday, August 15, 2010

Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.


Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.

Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109.

Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi masih merajalela. Demi menumpuk kekayaan rela menanggalkan ”baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agama.

Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.

Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia. (hlm.220 )   

 Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya?.

Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga  hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan  dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka  bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia.

Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar.  Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. (vol.2 hlm.311)

Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin. Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna.
Semoga dengan peristiwa eksekusi mati Amrozi cs, mati pula radikalisme Islam, terkubur pula Islam yang berwajah seram. Pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris.

Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan.

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan  terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.

Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Selamat berhari raya !

Sumber: Pesantren Virtual.com
Ditulis oleh Yusuf Fatawie*  
*  Koordinator Forum Kajian ’Beras’ (Bengkel Turas) Kediri.
Staf Ahli Majalah Misykat Kediri
Alamat:
Kantor Majalah Misykat
Jln. HM Winarto no.05 Campurejo Mojoroto 
Kota Kediri Jatim 64101   

Testimoni

Friday, August 6, 2010

[Pertama] [Sebelumnya] Hal [ 1 ] [ 2 ] [ 3 ] dari Semua [ 3 ] [Berikutnya] [Terakhir]

Alhamdulillah semua berjalan lancar

Assalamu alaikum Wr. Wb.
Tanggal 29 Agustus 2008 saya mengadakan aqiqah anak saya Aisyah Salsabila yang lahir pada tanggal 13 Mei 2008, menggunakan jasa Ihsani Aqiqah. Mulanya, saya mencari informasi jasa aqiqah ke teman-teman dan media internet. Akhirnya, kami sekeluarga tertarik untuk mempercayakan kepada Ihsani Aqiqah. 

Pemesanan saya lakukan melalui internet dan telpon. Saya sempat ragu-ragu apalagi pada hari H, dan terus mengadakan kontak dengan pak Dede CP Ihsani Aqiqah. Alhamdulillah semua berjalan lancar walaupun saya tinggal di Bogor. Dan yang paling saya senangi masakan yang disajikan sama sekali tidak berbau maaf “kambing” , karena sebagian kerabat saya takut mengenai hal tersebut karena katanya menghilangkan selera makan. Terima kasih Ihsani Aqiqah semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya serta memurahkan rizki-Nya untuk seluruh kru Ihsani Aqiqah. (Neneng - Cibinong)

Sate Domba Afrika

Thursday, August 5, 2010

Waduuuuuh, sebagai keturunan 1/2 arab, tentunya aku seneng ama daging kambing maupun domba yak! huhuhuhu..

Tapi masalahnya adalah, sangatlah jarang aku nemuin tempat jajanan yg jualan daging kambing/domba yg bener2 bikin aku jatuh hati!
Problem yg selalu bikin aku ilfill selalu sama, bau prengus dan dagingnya keraaaaas! idiiih..

Makanya aku selalu milih untuk beli daging kambing sendiri (yg dijual and dipotong ama orang arab karena dijamin kambingnya muda and gak bau prengus..dan so pasti empuuuk!) untuk kemudian diolah jadi krengsengan dan dimakan dengan nasi kebuli..syedaaap!

Lho, kok malahan ngomongin kebuli..duh maaf...

Oke, balik ke sate domba afrika..
Sabtu kemaren, malam2 kelaparan and kebetulan sepupuku si mumu lagi mampir ke rumah, tentunya saat yg tepat untuk jajan.. :-)

Setelah bingung mau kemana, maka mumu mengajukan opsi untuk ngejajal sate domba afrika yg di jl gajah mada. Konon ada 2 tempat jualan sate domba afrika ini. Yg pertama di tanah abang (aku nggak tau persis dimana tempatnya) yg mana bukanya siang sampe jam 3-an sore, nah yg kedua yg di jl gajah mada ini, bukanya malam sampai jam 2 pagi! so, langsung deh kami meluncur kesana..

Tempatnya gampang bgt dicari, tinggal susurin aja jl gajah mada, nah, pas dah keliatan kincir anginnya holland bakery di sebelah kanan atas, cepet2 noleh ke kiri and there it iiiissss..si warung sate domba afrika..hehehehe
Nih warung menempatin trotoar sebuah kantor kayaknya..cukup lega deh, nggak terlalu desek2an.

Menu yg ditawarkan nggak banyak, yg sempet aku perhatiin:
- sate domba afrika .. 35k
- sop domba .. 15k
- sate jeroan.. 35k

untuk temennya si sate ada nasi putih and pisang goreng..lupa liat harganya..hehehe..

Sate domba yg kami pesen dateng niiih.. aku tadinya agak pesimis, paling2 juga nih bau prengus and dagingnya keras.. buut, surprise-surprise.. dagingnya gak bau samsek and dagingnya empuk! haduuuh..sampai terharu rasanyaaa... hihihihihi..

Beneran deh, sedep bgt..dagingnya gak disajikan dengan tusukan bambu, tapi dah dipotong2 and dicampur dengan bawang bombay iris yg bikin aromanya tambah sedep!
Belom lagi cocolannya, disediakan mayones segala! jadi selain sambel and kecap manis, nih sate domba emang nendang bgt kalo dimakan ama mayonesnya! duuuh..sluuurp!

Aku nyobain makan pake nasi putih and pisang goreng juga. Dengan nasi putih tentunya dah biasa ya, maka si sate domba ini dimakan dengan pisang goreng, rasanya unik bgt! Manisnya pisang goreng (polos tanpa tepung) dengan gurihnya daging domba PLUS asoynya cocolan yg merupakan campuran sambel-kecap manis dan mayones, bener2 bikin pengen ngunyah teruuuus!
Bener2 pengalaman makan yg menyenangkan deh!

Harganya pun lumayan terjangkau..
Malam itu, kami bertiga menghabiskan 2 porsi sate domba, 2 nasi putih, 1 porsi pisang goreng, 2 teh botol, 1 es teh manis, dan satu teh manis panas, yg dibandrol total 99ribu saja.
Bener2 worth it!

Ayooo..ayooo..
aku rekomen bgt deh tempat iniii!
Cobain yaaaa!, jangan lupa ajak-ajak! hehehehehe...
sumber : Ibu Ida ada di sini

review versi suami bisa dibaca disini..

Chat Box dengan Kami

Follow by Email

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. Global Bekasi - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger