Ayuni Mirlina, Caleg yang Tidak Saya Kenal

Thursday, September 26, 2013

Apakah Ayuni Mirlina Kutu Loncat Parpol?
Hasil Penelitian Khusus Melalui Internet dan Wawancara Dari Beberapa Sumber

Ayuni Mirlina saat mendaftarkan diri jadi calon walikota melalui Partai Demokrat
Ayuni Mirlina saat jadi balon walikota di PD
Ketika penulis melihat salah satu baliho caleg wanita "berwajah cantik" ini (setidaknya yang terpampang di poster dan baliho kampanyenya) terpampang di satu pertigaan pintu masuk komplek perumahan Jaka Permai, saya jadi ingat wajah itu lagi beberapa tahun silam pada pemilu tahun-tahun sebelumnya dan juga pilkada.

Nah caleg yang seperti ini yang harus saya cari tahu seperti apa "sih" sebenarnya pribadi yang telah gagal berkali-kali ikut pileg di dua pemilu sebelumnya tahun 2004 dan 2009 dari PAN dan kemudian gagal lagi bertarung di pilkada 2012 lalu sebagai calon walikota dari partai Demokrat.

Ada dua kata saja untuk menggambarkan seperti apa perempuan yang juga menjadi ketua organisasi komunitas dansa ini. Pertama, "ngotot" atau yang kedua "pejuang". Setidaknya sementara waktu ini saya menyebutnya "Pejuang Ngotot". Seperti ngototnya saya ingin bisa bertemu dan mewawancarainya, yang ternyata susah sekali.



Ayuni Mirlina, saat menjadi caleg dari PDIP, kini dengan gelar hajjah
Ayuni Mirlina dengan seragam birunya yang dulu
Penulis memang tak mengenal perempuan ini, tapi ketika ada kesempatan untuk datang ke rumahnya dan pada kali ke-4 dan mudah-mudahan ini bukan tanda kenapa ia kini berada di partai bernomor 4. Hah? Bercanda!

Sungguh betapa sulitnya saya meyakinkan dirinya bahwa saya bukan wartawan yang mau menjatuhkannya, malah saya ingin memperjelas isyu yang beredar di antara kawan dan lawan politiknya.

Apakah dia tidak tahu istilahnya konfirmasi, dan jika dia menghindar terus dari wartawan seperti saya, malah justru menghadirkan ketidakjelasan niatnya sebagai caleg, atau bahkan bisa menimbulkan kecurigaan bahwa benar adanya sangkaan dari banyak orang terhadap dirinya yang dianggap kutu loncat politik yang penuh ambisi. Sayang sekali dia sepertinya tidak mengerti hal itu. Menghindari wartawan justru memperkeruh pencitraan dirinya. 

Setelah beberapa kali hanya bertemu dan bertelepon ria dengan asisten rumah tangga alias pembantunya yang masih gadis itu di kediamannya.

Tidak perduli berapa kali dia gagal dalam pemilu mau puluhan kali atau ratusan kali (jelas itu tidak mungkin) dia gagal dalam pilkada, bagi saya sosok wanita berjilbab ini perlu untuk ditelusuri dan diketahui lebih jauh apa sebenarnya yang menjadi motivasinya terjun ke dunia politik. Boleh jadi ini bagian dari penelitian khusus (litsus) dari sosok Hj. Ayuni Mirlina.

Ayuni Mirlina saat jadi calon walikota dan wakil dari PAN, tanpa gelar sama sekali
Ayuni Mirlina saat jadi balon walikota Bekasi dari PAN
Hal ini wajar bagi saya sebagai seorang pewarta blogger atau jurnalis warga (citizen journalist), yang penasaran mengapa wanita berpenampilan manis ini sudah loncat-loncat beberapa kendaraan politiknya. Mulai dari PAN, kemudian pindah ke Demokrat untuk pilkadanya dan terakhir melalui PDI Perjuangan bersandingan (kampanye tandem) dengan Sumiyati Mochtar Mohamad, istri mantan walikota Bekasi yang mendapat nomor urut 1 dari dapil Kota Bekasi dan Kota Depok.

Ayuni Mirlina memang mendapat nomor 3 dari dapil Bekasi Barat dan Medan Satria untuk DPRD Kota Bekasi. Namun statusnya bukan sebagai anggota struktur partai dan mendapatkan nomor kecil inilah yang menunjukkan betapa hebatnya lobi-lobi yang dilakukannya ke dalam struktur partai. Politisi memang identik dengan pelobi yang mumpuni.

Meskipun begitu dari informasi yang berhasil dikumpulkan, kemungkinannya dia mendapat nomor 3 adalah agar kuota perempuan dalam pemilu bisa terpenuhi. Tapi jika dilihat urutan daftar calon tetap, dimana urutan pertama diduduki oleh H. Sudirman, incumbent anggota DPRD Kota Bekasi yang juga anggota dalam struktural DPC, kemudian nomor urut 2 diselipkan tokoh yang dekat dengan ring 1, keluarga Megawati Soekarnoputri, Erwin dan barulah posisi nomor 3 diberikan kepada Ayuni Mirlina. Dan di sana ada caleg perempuan lainnya seperti Sahidah dan Dwi Sulistyowati dengan nomor urut masing-masing nomor 6 dan 9.

Ayuni Mirlina saat jadi balon walikota dgn PKS & PAN
Pada dapil V, yakni Bekasi Barat dan Medan Satria, memang ada 2 orang yang duduk di kursi DPRD Kota Bekasi, pertama H. Sudirman, SH. nomor 1 dan yang berikutnya nomor 5, yakni H.R. Budhy Prihanto. Namun Haji Budhy demikian panggilan akrab caleg nomor 5 ini, sejatinya adalah Penggantian Antar Waktu (PAW) dari anggota dewan Yance Sunur yang sudah menjadi Wakil Bupati di satu kabupaten di Indonesia Bagian Tengah sana.


Sebagian orang beranggapan bahwa PAW bukanlah "incumbent" namun tak sedikit pula para pengamat politik Kota Bekasi menganggap PAW juga bisa disebut sebagai incumbent, yang punya pengaruh dalam perolehan suara partai.

Kembali mengomentari kelihayan seorang Ayuni Mirlina dalam melobi para kader PDIP, nampak dari kehadiran dirinya di pembekalan para caleg saat workshop di Kota Cirebon, dia datang dengan beberapa kader PDIP dari ranting dan anak cabang Bekasi Barat dengan lebih dari satu mobil.

Sedangkan caleg lainnya seperti H.Budhy justru sebagai incumbent malah datang sendirian dengan satu mobil saja.

Melihat kenyataan tersebut di lapangan, ternyata kedigdayaannya di bidang lobi melobi juga harus diimbangi dengan kelihayannya menepis berita miring yang akan diarahkan kepada wanita yang bersuamikan H.Ir.Kusnanto, MM. ini, saat sedang bertemu dengan publik baik itu di kalangan akar rumput maupun di kalangan elit petinggi, birokrat maupun pendukung pencalonan dirinya sebagai anggota dewan. Hal ini dikenal dengan istilah kemampuan berdiplomasi.

Kegagalan yang tak pernah menyurutkan ambisinya berpolitik
Apakah seorang Ayuni Mirlina mempunyai kemampuan berdiplomasi yang unggul? Jawabannya adalah bagaimana dia menanggapi pernyataan yang pertama kali saya angkat sebagai judul tulisan ini, yakni siapakah Ayuni Mirlina yang tidak saya kenal ini?

Pertama setelah saya bertemu dengan diri wanita beranak dua ini ketika di kediamannya di bilangan Jaka Permai, tepat sesaat setelah seorang rekanan wartawan atau entah apa, berbincang sebentar.

Saya pun mendapat giliran untuk bisa berbincang dengan Ayuni Mirlina sehingga saya mendapat kesempatan untuk buat janji dan ketemuan di lain waktu serta sempat bertukar nomor telepon HP dan sempat bertukaran pin BB yang sayangnya tidak juga dijadikan kontaknya.

Lumayan buat saya karena alasannya yang sibuk dengan berbagai urusan mulai dari keluarga hingga kemudian hari kepergiannya dengan beberapa pengurus partai ke Cirebon untuk pembekalan kampanye oleh Ketua Umum PDI Perjuangan langsung dengan Megawati SP.

Simbolisasi gambar apakah caleg Ayuni Mirlina yang namanya akan turun?
Hj. Ayuni Mirlina, SE.MM. semakin turunkah namanya di mata rakyat?
Komunikasi yang tidak penuh meskipun terbilang saya aktif secara intens menghubungi lebih dulu menunjukkan semangat saya yang lebih besar untuk bisa mewawancarainya bahkan jauh lebih besar daripada ambisi perempuan ini jadi caleg. Ah masak iya?

Sehingga saya punya anggapan seolah wanita yang dulu dikenal ayu ini memang tak membutuhkan wartawan khususnya untuk media online dalam pembentukan opini publik serta seolah dirinya tidak sadar betaoa kemampuan media online mewartakan hal negatif maupun positif dalam pencitraan dirinya untuk kampanye 2014 mendatang.

Jika benar ini yang menjadi dasarnya sehingga sulit terasa bagi saya untuk bisa mengatur waktu mewawancarainya agar misi saya "bahwa publik harus mengetahui siapa sebenarnya caleg pilihan mereka" untuk sosok Ayuni Mirlina, sebagai salah satu cara tercepat via internet meneliti si calon wakil rakyat. Karena jika saya tidak berhasil mewawancarainya, pencitraan negatif yang sudah saya tangkap dari pencalegan Ayuni Mirlina bisa jadi semakin berkembang besar dan tentunya tidak produktif bagi kampanye dirinya.

Mengapa tidak produktif? Karena sepanjang pengamatan saya ketika mencari informasi dari internet, yang ada adalah data atau informasi kegiatan dirinya selama ini dari satu partai ke partai lain. Hal ini tentunya bisa mengundang pengertian miring dan negatif dalam caranya lompat dari satu kendaraan partai ke partai lain.

Bagaimana tidak, dulu dia pernah berkampanye sebagai calon legislatif dari PAN di awal tahun pertengahan tahun 2008 untuk pemilu tahun 2009, kemudian beberapa tahun kemudian juga dari internet, saya mendapatkan informasi tentang pencalonan dirinya menjadi calon walikota dari partai Demokrat di pilkada tahun 2012 Kota Bekasi. Bagi saya pribadi, hal yang wajar jika dulu pencalegan dari partai biru PAN kemudian ikut pilkada juga di partai biru juga, yakni Partai Demokrat. Tapi hal itu akan berkesan lucu, jika kita komentari dari biru ke biru, sekarang langsung ke merah, bukan?

Sepertinya Ayuni Mirlina harus menjelaskan ini kalau tak mau dibilang ngotot dan ambisius untuk memiliki kekuasaan politik. Dan terakhir di tahun 2013 ini, beberapa balihonya jelas terpasang di banyak tempat yang menunjukkan dia siap menjadi calon wakil rakyat untuk DPRD Kota Bekasi, namun dengan kendaraan PDI Perjuangan, dan bernomor kecil. Itu satu keuntungan tak nampak.
Memang betul, nomor kecil bukanlah nomor jadi untuk partai berlambangkan banteng moncong putih ini, tapi semua orang dan praktisi politik serta para pengamat politik tahu, betapa nomor kecil biasanya diposisikan untuk anggota struktural partai atau mereka yang sanggup melobi struktural dan mendapatkan posisi istimewa tersebut.

Dan apakah nama Ayuni Mirlina akan naik, jika dia bergerak mundur seperti mobil kadernya ini?
Ayuni Mirlina akan bergerak naik, jika dia mau berjalan mundur
Hal inilah yang sangat sarat dengan fitnah besar yang kelak akan ditanggungnya sendiri jika dia tidak melakukan apa yang disebut dengan istilah konfirmasi dan penegasan pembentukan opini masyarakat yang bakal berkembang negatif bila dia tak segera melakukan pernyataan publik.

Kekuatan pernyataannya melalui pihak media pers dalam hal ini wartawan yang mempunyai jaringan serta kekuatan besar mencitrakan siapa dirinya yang sesungguhnya menjadi satu keniscayaan kebutuhan bagi dirinya jika dia mau memenangkan pertarungan di kampanye mendatang.

Memang bukanlah hal yang mudah untuk memuaskan segala pihak, akan tetapi adalah hal yang sangat sederhana dan jauh lebih murah serta efektif, jika dia bisa menyuarakan kepentingan kepada orang yang bisa berbuat banyak dengan pencitraan dirinya.

Apakah orang lebih percaya kepada dirinya, jika dia melakukan pernyataan narsis (pernyataan egonya dalam baliho, poster maupun stiker) bahwa dia mempunyai modal yang pas untuk bisa dipilih konstituennya sebagai wakil rakyat?

Saya katakan narsis, karena baliho yang di dalamnya tak ada pernyataan orang ketiga sebagai testimoni, maka semua orang tahu jika baliho itu dibuat olkeh dirinya sendiri, dan tentunya semua pernyataan baik positif lebih menunjukkan egonya sebagai caleg. Apapun itu, terlepas si caleg ini mengerti atau ahli komunikasi masa atau tidak. Namun untuk seorang yang sudah mengenyam pendidikan strata S2, seharusnya mengerti tentang strategi kampanye dengan alat peraga media luar ruang, bagaimana etika dan gaya komunikasi massa yang bisa mengundang kepercayaan orang sedetik setelah membacanya.

Apakah Ayuni Mirlina tidak mengetahui hal itu? Tentu tidak, harusnya ada pihak ketiga, yang bisa dikatakan sebagai testimoni, terlepas benar atau tidak, yang penting pihak ketiga ini mampu menyuarakan bagaimana kualitas seorang Ayuni Mirlina. Dan hal ini jauh lebih mudah disampaikan dan terkadang bisa lebih efektif bila dilakukan oleh pihak ketiga, seperti media massa, meskipun yang berskala kecil seperti blogger ataupun media cetak abal-abal (kalau tak mau dibilang koran kecil dan ecek-ecek) yang kini mulai menjamur di banyak kota seperti Kota Bekasi hingga media online seperti http://kandidat-kandidat.com yang jaringannya masuk ke seluruh media televisi nasional maupun lokal hingga internasional.

Bukankah jaringan media online sebagai salah satu media publikasi dan informasi yang paling pertama dijadikan referensi awal para awak media elektronik untuk mencari sumber informasi tentang pemilu 2014 baik itu untuk penelitian khusus atau sekadar data awal tentang para kandidat caleg yang mau dijadikan sumber pemberitaan? Apapun medianya, wartawan yang mempunyai kekuatan menuliskan segala sesuatu langsung ke tengah publik bisa jadi sesuatu yang membahayakan jika tidak ditanggapi dengan bijak dan positif.

Nah, bagaimana respon seorang Ayuni Mirlina dalam menyikapi pemberitaan tentang dirinya yang pandai melompat-lompat seperti bajing dari satu partai ke partai lain demi politik yang sedang dirintisnya? Kita tunggu jawaban dan responnya pada penulisan berikutnya, apakah dia termasuk politisi yang "ngotot" atau politisi yang benar-benar "pejuang".

SidikRizal, pengamat politik dan jurnalis warga yang aktif menulis serta mencari tahu siapakah caleg pilihan publik. http://kandidat-kandidat.com

Biodata
Caleg Nomor 3 PDI Perjuangan
DPRD Kota Bekasi Dapil 5
Bekasi Barat - Medan Satria

Nama Lengkap : Hj.AYUNI MIRLINA, SE.MM
No. KTP : 3275026910640006
Tempat Lahir : JAKARTA
Tanggal Lahir : 29-10-1964
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : ISLAM
Status : KAWIN
Nama Suami : H.IR.KUSNANTO, MM
Jumlah Anak : 2 orang
Alamat Rumah :
PERSADA KEMALA BLOK B KAV.8-9
RT.005 RW.013 Kel. JAKASAMPURNA
Kec. BEKASI BARAT
Kota BEKASI
Prov. JAWA BARAT
Pendidikan Terakhir : S2
Pekerjaan : KARYAWAN SWASTA  
Telp.: 0856xxxxxx 

Bersihkan Sisa Lumpur Banjir untuk Warga, Sediakan Mobil PickUp

Wednesday, September 18, 2013

Agus Winanto Pinjamkan mobil PickUp Untuk Angkut Sampah Lumpur Pasca Banjir, Perum Pondok Gede Permai





Daerah Jatiasih khususnya yang terkena banjir, menyisakan banyak lumpur di areal umum seperti jalan perkampungan dan lapangan bola (futsal) maupun beberapa tempat ibadah. Hal ini disikapi dengan sigap oleh Agus Winanto yang peduli betapa sisa lumpur ini jika dibiarkan berlama-lama akan memberi dampak buruk bagi kesehatan dan kebersihan lingkungan.

Namun tak banyak yang bisa diperbuat oleh warga di lingkungan yang tertimpa bencana banjir ini. Prihatin dengan kondisi ini, bang Aguswi, sapaan akrab lelaki paruh baya ini, langsung mengerahkan tim kerja relawannya dengan warga sekitar banjir untuk membersihkan lingkungan terutama area fasilitas sosial hingga tak berlumpur lagi. Untuk itu Aguswi merogoh dari koceknya sendiri dan menyediakan beberapa mobil pickup untuk mengangkat karung-karung lumpur yang akan dibuang ke lain tempat.

"Harapan saya meskipun harus merogoh dari kantong saya sendiri, warga bisa merasa kembali nyaman dengan lingkungan yang bersih setelah banjir beberapa hari yang lalu. Biar Allah yang membalas kebaikan beberapa rekan dan anggota dari relawan saya disamping mereka hanya mendapatkan sekadar honor lelah," ujarnya tanpa bermaksud sombong.

Chat Box dengan Kami

Follow by Email

Popular Posts

 
Support : Webrizal | Tutorial | My Opini
Copyright © 2009-2014. Global Bekasi - All Rights Reserved
Template Recreated by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger